Harga Minyak Meledak ke US$86 Usai Trump Sasar Fasilitas Energi Iran
Harga minyakdunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (15/7), setelah konflik antaraAmerika Serikat(AS) danIrankembali memanas.
Kenaikan dipicu keputusan Presiden Donald Trump memberlakukan kembali blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran, serta serangan balasan Teheran ke infrastruktur militer AS di kawasan Timur Tengah.
MengutipReuters,harga minyak mentah Brent naik US$1,46 atau 1,72 persen menjadi US$86,19 per barel pada awal perdagangan. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,11 atau 1,4 persen menjadi US$80,40 per barel.
Penguatan itu melanjutkan reli pada sesi sebelumnya. Brent dan WTI sama-sama ditutup di level tertinggi sejak pertengahan Juni, setelah sehari sebelumnya harga minyak melonjak sekitar 2 persen ke posisi tertinggi dalam satu bulan.
Diketahui bahwa, Kenaikan harga dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dari Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum pecahnya konflik.
Militer AS pada Rabu dini hari kembali melancarkan serangan ke Iran. Washington menyebut operasi dimaksud ditujukan demi melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Iran menyatakan kembali menutup Selat Hormuz setelah konflik dengan AS kembali pecah pekan lalu, sekaligus memperburuk gencatan senjata yang sudah disepakati kedua negara pada Juni lalu.
Trump juga mengisyaratkan fasilitas energi Iran dapat menjadi sasaran serangan berikutnya.
Sementara itu, “Saya akan menyimpan target energi untuk yang terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang target-target energi,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Sebagai balasan, militer Iran mengklaim telah meluncurkan serangan pesawat nirawak ke pangkalan militer AS di Azraq, Yordania.
Sementara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang fasilitas penyimpanan senjata di Bahrain dan Kuwait, meski laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan eskalasi konflik meningkatkan peluang harga minyak kembali mendekati US$100 per barel apabila infrastruktur energi di kawasan Teluk mengalami kerusakan.
Tak hanya itu, “Jika eskalasi terus berlanjut hingga merusak infrastruktur energi di kawasan Teluk, peluang harga minyak kembali menuju US$100 per barel dalam waktu dekat masih cukup besar,” jelasnya.
Meski demikian, Waterer menilai harga Brent masih berpotensi bertahan di kisaran US$75 hingga US$80 per barel apabila jalur diplomasi berhasil membuka kembali Selat Hormuz.
Baca Juga:




