15 Juli 2026 Stories worth reading. Perspectives worth sharing.
BREAKING
Rupiah Lanjut Menguat, Dolar AS Kini Parkir di Rp18.060
Finance & Uang

Rupiah Lanjut Menguat, Dolar AS Kini Parkir di Rp18.060

admin Juli 15, 2026 3 min read

Jakarta, CNBC Indonesia- Mata uang Garuda kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu (15/7/2026). Penguatan terjadi di tengah dinamika dolar AS di pasar global yang tengah menghadapi tekanan.

Merujuk dataRefinitiv, nilai tukar rupiah menutup perdagangan di posisi Rp18.060/US$. Posisi ini membuat rupiah terapresiasi 0,11% pada perdagangan hari ini.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak cukup terbatas dengan kecenderungan menguat. Mata uang Garuda bergerak di rentang Rp18.040-Rp18.077/US$.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau bergerak stabil di level 100,912. Sebelumnya, DXY mengalami tekanan tajam 0,31% pada perdagangan Selasa (14/7/2026).

Diketahui bahwa, Penguatan rupiah masih ditopang oleh tekanan terhadap dolar AS di pasar global setelah Amerika Serikat (AS) mengumumkan data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan.

Inflasi tahunan AS turun menjadi 3,5% pada Juni 2026. Angka tersebut menandai penurunan pertama dalam empat bulan terakhir, lebih rendah dibandingkan posisi Mei 2026 yang sebesar 4,2%, serta berada di bawah proyeksi konsensus sebesar 3,8%.

Secara rinci, indeks energi masih mencatat kenaikan tahunan sebesar 15,7%, sementara harga makanan naik 3,0%. Namun secara bulanan, Indeks Harga Konsumen (IHK) AS mencatat deflasi 0,4%. Realisasi tersebut lebih dalam dibandingkan ekspektasi deflasi 0,1%.

Deflasi bulanan ini menjadi yang pertama sejak Mei 2020. Penurunan tersebut juga menjadi kontraksi bulanan terbesar sejak April 2020, atau pada masa awal pandemi Covid-19.




Sementara itu, Data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan membuat ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) ikut mereda.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Juli turun menjadi 16%, dari 42% pada Senin. Meski begitu, peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini masih cukup besar, yakni 80%, turun dari 89% pada Senin.

Melemahnya dolar AS di pasar global pada akhirnya membuka ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Sentimen positif juga datang dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. S&P juga mempertahankan outlook Indonesia di level stabil.

Tak hanya itu, Keputusan ini menjadi angin segar bagi Indonesia, terutama setelah sebelumnya Moody’s dan Fitch merevisi outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai keputusan S&P dimaksud lebih adil dibandingkan penilaian lembaga pemeringkat lainnya.

“Saya sudah bilang berkali-kali kan, lembaga-lembaga sebelumnya yang lain, ada kemungkinan mereka offside karena mereka melakukan assessment sebelum data triwulan pertama keluar. Ingat kan itu? Saya bilang ya terlalu cepat, bukan mereka salah, ya terlalu cepat. Jadi ini S&P yang lebih fair saya pikir,” ungkap Purbaya di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, dikutip Rabu (15/7/2026).

Sentimen tersebut turut menjaga persepsi pasar terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia, di tengah tekanan global yang masih tinggi.

Baca Juga:

Leave a Comment