16 Juli 2026 Stories worth reading. Perspectives worth sharing.
BREAKING
Menyoal Mitos di Bulan Safar, Benarkah Membawa Petaka?
Kesehatan

Menyoal Mitos di Bulan Safar, Benarkah Membawa Petaka?

admin Juli 16, 2026 3 min read

Dalam kehidupan sehari-hari, masih ada sebagianumat Muslimyang memercayai tradisi tanpa menelusuri dasarnya dalam ajaran Islam. Salah satunya, yakni sejumlah mitos dibulan Safar.

Bulan ini kerap dianggap membawa sial, penuh musibah, dan tidak tepat untuk melakukan hal-hal penting. Namun benarkah mitos di bulan Safar memiliki dasar yang kuat dalam Islam? Akibatnya, ada orang yang menghindari pernikahan, perjalanan jauh, hingga memulai usaha pada bulan Safar.

Mengutip laman MUI, Safar itu sendiri merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriyah. Dalam penjelasan Ibnu Mandzur di Lisanul ‘Arab, kata Safar memiliki dua makna, yaitu kosong (shafar) dan kuning (shufrah).

Penamaan tersebut dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat Arab pada zaman dahulu yang meninggalkan rumah mereka untuk bepergian atau berperang, sehingga tempat tinggal menjadi kosong.

Diketahui bahwa, Dalam kitab al-Mufasshal fi Tarikhil ‘Arab Qablal Islam, disebutkan bahwa kondisi kosong itu membuat orang-orang yang ditinggal berkata, “Orang-orang mengosongkan kota (meninggalkan) kita, sebab kita miskin (kosong/tidak punya harta).” (Juz 6, h. 120)

Dari sinilah nama Safar dikenal luas. Sejarah ini penting dipahami agar mitos di bulan Safar tidak terus dipelihara tanpa ilmu.

Ada banyak mitos di bulan Safar yang beredar di kalangan masyarakat sejak dahulu kala. Berikut ini beberapa di antaranya:

Ada anggapan Safar adalah bulan pembawa kesialan. Itulah yang menyebabkan banyak orang menunda acara penting seperti menikah, pindah rumah, atau memulai pekerjaan baru.

Sementara itu, Ada pula keyakinan bahwa perjalanan di bulan Safar rawan membawa musibah. Sebagian orang percaya risiko kecelakaan atau kejadian buruk lebih masif jika bepergian saat itu.

Padahal, keselamatan dalam perjalanan bukan ditentukan oleh bulan, melainkan oleh kehendak Allah dan ikhtiar manusia.




Safar juga sering dianggap sebagai bulan penyakit. Muncul anggapan wabah atau gangguan kesehatan lebih mudah terjadi pada bulan ini. Padahal, sakit dan sehat adalah bagian dari takdir Allah, bukan karena bulan tertentu memiliki energi negatif.

Dari berbagai mitos di bulan Safar tersebut, adakah kebenarannya? Mengutip laman Universitas Islam Indonesia, dahulu kala ketika masyarakat Arab jahiliah meyakini bulan ini membawa nasib buruk, Rasulullah datang dan bersabda:

Tak hanya itu, “Tidak ada penularan (penyakit) tanpa izin Allah, tidak ada kepercayaan terhadap burung sebagai penentu nasib, tidak ada kesialan pada burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Bukhari, no. 5707; Muslim, no. 2220)

Hadis ini menegaskan, mitos di bulan Safar tidak memiliki landasan syariat. Semua bulan pada dasarnya sama di sisi Allah. Tidak ada bulan yang secara mandiri membawa keberuntungan atau kesialan. Yang menentukan baik buruknya keadaan seseorang adalah amal, doa, dan izin Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ

Perlu diketahui, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Ayat itu menegaskan, semua bulan merupakan ciptaan Allah dan hanya empat bulan yang diberi kekhususan, yakni Zulkaidah, Zulhijah, Muharram, dan Rajab. Safar tidak termasuk di dalamnya, artinya bulan ini sama mulianya bersama bulan lain.

Meluruskan mitos di bulan Safar bukan sekadar membantah tradisi lama. Ini juga bagian dari menjaga kemurnian akidah umat Islam agar lebih bertawakal kepada Allah.

Jadi, daripada takut pada mitos di bulan Safar, lebih unggul menjadikannya sebagai momen untuk memperbanyak ibadah. Perbanyak zikir, salat, sedekah, menuntut ilmu, dan memperbaiki hubungan menggunakan sesama. Semua bulan adalah kesempatan untuk berbuat baik.

Baca Juga:

Leave a Comment