Kenapa Messi Sering ‘Bengong’ di Tengah Pertandingan?
Lionel Messikembali membawa Argentina ke finalPiala Dunia 2026. Kepastian Argentina melaju ke partai puncak didapat setelah mereka menumbangkan Inggris dengan skor 2-1 di babak semifinal pada pertandingan yang digelar di Stadion Atlanta pada Kamis (16/7) dini hari.
Meski tidak mencatat nama pada papan skor, Messi berperan masif dalam dua gol Argentina. Mantan pemain Barcelona itu merupakan arsitek dari dua gol yang dicetak oleh Enzo Fernandez di menit ke-85 dan Lautaro Martinez di masainjury time.
Pada laga melawan Inggris ini, Messi terlihat seperti banyak melamun atau kehilangan fokus. Pada beberapa pertandingan lainnya, Messi serta tampak lebih banyak berjalan kaki daripada berlari.
Kata laporanThe Athletic, selama Piala Dunia 2026, 63 persen pergerakan Messi hanya berjalan kaki, jauh lebih dominan dibanding pemain lain. Bahkan, ia menghabiskan 25 persen sisa waktu pertandingan dengan hanya berdiri, terlihat seperti orang melamun atau bengong.
Diketahui bahwa, Faktor usia kemungkinan besar berpengaruh. Namun, ternyata Messi memang selalu menghabiskan banyak waktu untuk menahan diri dan mengamati situasi.
“Berjalan santai sejak dulu sudah menjadi bagian dari gaya main Messi,” ungkapThe Athletic.
Langkah kakinya yang santai mungkin terlihat seperti kehilangan fokus, tapi para psikolog olahraga melihat hal lain yang sedang terjadi. Apa yang tampak seperti kemalasan sebenarnya trik mental berbasis sains untuk memicu kreativitas dan performa yang lebih tinggi.
Eric Zlmer, seorang psikolog olahraga, dalam artikel terbarunya diScientific American, mengulas berbagai strategi mental yang ia amati sepanjang perhelatan Piala Dunia. Salah satu ulasan Zilmer adalah mengenai momen-momen ketika Messi tampak tidak terlibat dalam permainan.
Sementara itu, “Ketika para peneliti memeriksa ke mana arah pandangan sang maestro Argentina, mereka menemukan bahwa matanya sering kali tidak tertuju pada bola,” tulis Zilmer, melansirInc, Kamis (16/7).
Sekilas hal ini terdengar negatif. Baik dalam dunia olahraga maupun lingkungan kerja yang penuh tekanan, fokus penuh pada target utama biasanya dianggap sebagai keharusan.
Secara intuitif anggapan itu memang benar, tapi Zilmer mengungkapkan bahwa penelitian neurosains justru membuktikan sebaliknya.
“Bukti pencitraan saraf terbaru menunjukkan bahwa saat pikiran sedang mengembara, otak sebenarnya tidak sedang beristirahat. Otak justru sedang memproses informasi dengan cara yang berbeda,” jelas dia.
Tak hanya itu, Ketika Messi tampak melamun atau bengong, ia sebenarnya sedang membiarkan pandangannya menjelajah dan membiarkan otaknya menarik diri bagi mengamati pertandingan dari perspektif yang lebih luas.
Jeda intensitas ini memberikan waktu istirahat bagi otaknya, membantunya mempertahankan fokus tajam saat dibutuhkan sepanjang laga yang berdurasi lebih dari 90 menit. Hal ini juga memungkinkan Messi menyerap lebih banyak informasi dan melihat peluang yang dilewatkan oleh pemain lain.
“Mengendalikan pikiran yang mengembara secara sengaja, yang melibatkan eksplorasi mental secara aktif, bisa sangat bermanfaat dalam olahraga performa tinggi,” kata Zilmer.
Dari situ, ia menarik kesimpulan bahwa Lionel Messi tampaknya memiliki kemampuan kognitif tingkat dunia.
Perlu diketahui, Membiarkan diri ‘bengong’ secara strategis bukan sekadar untuk bintang sepak bola. Ini merupakan trik otak yang pada dasarnya dapat digunakan oleh siapa saja.
Ketika seseorang membutuhkan ide cemerlang, insting alami manusia sering kali adalah menegang dan memaksakan diri bekerja lebih keras, bukan melambat, berjalan santai, atau melupakan tugas sejenak.
Namun, seperti yang dibuktikan oleh rekor 21 gol Messi di Piala Dunia, seringkali langkah terbaik adalah melawan insting kita sendiri dan membiarkan pikiran mengembara sejenak.
Saat berada di bawah tekanan besar, tidak melakukan apa-apa memang terasa salah. Namun, para psikolog olahraga dan ilmuwan saraf menyatakan bahwa periode singkat dari pengembaraan pikiran yang terkendali sebenarnya merupakan trik yang didukung oleh penelitian ilmiah, yang dapat menghasilkan kreativitas lebih tinggi serta performa yang lebih baik.
Baca Juga:




