Dolar Melemah, Asia Terbelah: Rupiah-Won Melemah, Ringgit-Yen Perkasa
Jakarta, CNBC Indonesia- Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung beragam pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Di tengah dinamika pergerakan dolar AS di pasar global.
Merujuk dataRefinitivper pukul 09.15 WIB, sebanyak enam mata uang Asia melemah dari greenback, sementara empat lainnya menguat.
Rupiah masuk dalam daftar mata uang Asia yang mengalami pelemahan. Kurs mata uang Garuda terpantau melemah tipis 0,04% ke posisi Rp18.068/US$.
Namun, tekanan terbesar pagi ini dialami won Korea Selatan yang melemah 0,18% ke posisi KRW 1.487,6/US$. Pelemahan ini terjadi meski bank sentral Korea Selatan baru saja menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 2,75%.
Diketahui bahwa, Baht Thailand juga ikut terkoreksi cukup dalam, yakni 0,15% ke posisi THB 33,62/US$.
Dolar Singapura turun 0,07% ke posisi SGD 1,289/US$. Sementara itu, yuan China dan dong Vietnam sama-sama melemah 0,03%, masing-masing ke posisi CNY 6,77/US$ dan VND 26.263/US$.
Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia setelah naik 0,12% ke posisi MYR 4,071/US$. Dolar Taiwan juga menguat 0,03% ke TWD 32,124/US$.
Yen Jepang dan peso Filipina turut bergerak positif, masing-masing naik 0,02%. Yen berada di posisi JPY 162,15/US$, sementara peso Filipina berada di PHP 61,627/US$.
Sementara itu, Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis 0,05% ke posisi 100,534 pada waktu yang sama. Meski pagi ini bergerak naik, dolar AS masih berada dekat level terendah dalam satu bulan terakhir.
Pergerakan dolar AS masih dipengaruhi dua sentimen yang saling tarik-menarik. Di sisi lain, ketegangan AS-Iran kembali menjaga risiko inflasi energi tetap tinggi. Di satu sisi, data inflasi AS yang lebih lunak membuat ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) dalam waktu dekat mereda.
Data harga produsen AS (Producer Price Index/PPI) secara tak terduga turun pada Juni, yang menjadi penurunan terbesar dalam 14 bulan terakhir. Data ini menambah bukti bahwa tekanan inflasi mulai mereda sebelum eskalasi terbaru di Timur Tengah.
Data PPI tersebut melengkapi inflasi konsumen AS yang ikut lebih rendah dari perkiraan dan perlambatan pertumbuhan tenaga kerja pada Juni. Kombinasi data itu membuat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Juli semakin kecil.
Tak hanya itu, Peluang kenaikan suku bunga pada Juli kini turun menjadi 11%, jauh lebih rendah dibandingkan 45% pada awal pekan. Meski begitu, pasar masih melihat peluang yang cukup seimbang untuk kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada September.
Bosco Wu, investment strategist Bank of East Asia, menilai pelemahan dolar belakangan ini lebih sebagai koreksi dari kenaikan tinggi sebelumnya.
“Pelemahan dolar baru-baru ini tampaknya adalah koreksi dari level tertinggi sebelumnya. Pasar sebelumnya terlalu agresif memperhitungkan kenaikan suku bunga Juli, yang kini terlihat agak berlebihan mengingat inflasi mendingin dengan cepat,” ujar Wu, dikutip dariReuters.
Namun, Wu menilai arah pengetatan kebijakan belum sepenuhnya hilang. Satu bulan data inflasi yang lebih rendah belum cukup demi memastikan tekanan harga benar-benar turun secara berkelanjutan.
Perlu diketahui, Selain itu, konflik AS-Iran kembali membatasi pelemahan dolar AS. Amerika Serikat menyerang pertahanan pesisir dan situs rudal Iran pada Rabu (15/7/2026), setelah kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan milik Iran.
Iran kemudian mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi di kawasan dan menyebut negaranya sedang menghadapi perang eksistensial dengan Amerika Serikat.
Harga minyak pun naik untuk hari keempat beruntun pada Kamis pagi ini. Brent diperdagangkan dekat level tertinggi satu bulan di US$85,28 per barel. Kenaikan harga minyak ini membuat pasar kembali mencermati risiko inflasi energi.
Baca Juga:




