Purbaya Dapat Kode dari BI: Jangan Ikut Campur Kebijakan Moneter!
Menteri Keuangan (Menkeu)PurbayaYudhi Sadewa mengungkap dirinya diminta tidak ikut campur dalamkebijakan moneteroleh bank sentral.
Itulah alasan yang membuat Purbaya akhirnya sempat menarik dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang ditempatkan di bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Pengakuan itu dilontarkan dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/7).
“Saya bukan mau mengambil uang tiba-tiba. Gini, saya mau menambah sebanyak-banyaknya, tapi kan saya bukan bank sentral. Ketika bank sentral memberi kode ke saya, ‘Jangan ikut campur kebijakan moneter,’ Ya saya ikut. Mereka bilang, ‘Kurangi uang kamu, kami akan ganti.’,” ujar Purbaya.
Diketahui bahwa, Purbaya menegaskan kalau ia tak ingin mengintervensi kebijakan moneter. Oleh lantaran itu, ia mengikuti permintaan BI tersebut, walapun tahu perbankan sebenarnya membutuhkan tambahan likuiditas.
“Saya enggak pernah sembrono dalam hal itu, apalagi menyangkut nasib negara kan. Saya mengerti betul kalau saya ambil pasti runtuh, tapi kita enggak mau ikut campur kebijakan lembaga yang lain. Ya sudah, saya tarik kalau gitu,” ujar Purbaya. Waktu itu mereka bilang mereka akan ganti uangnya.
Setelah dana SAL ditarik, ternyata situasi menjadi runyam. Himbara kekurangan likuiditas dan mereka ramai-ramai mendatangi kantor Purbaya.
Purbaya pun mempertanyakan alasan mencuatnya keluhan mengenai kekurangan likuiditas. Pasalnya, menurut berbagai indikator, termasuk data Bank Indonesia (BI), kondisi likuiditas perbankan masih tergolong memadai atau ample.
Sementara itu, Ternyata, ada indikator yang kurang akurat. Saat itu, Purbaya memutuskan untuk kembali menempatkan dana SAL pemerintah di BI ke Himbara.
“Walaupun di indikator bank sentral ample, kenyataannya enggak ada. Waktu kemarin bank-bank komplain, ya saya tanya ke mereka gimana. (Lalu dijawab) ‘uangnya emang enggak ada.’ Loh, indikator ini kan bagus semua? Berarti indikator yang mereka pakai, yang kita pakai selama ini, enggak akurat,” ujar Purbaya.
Purbaya menegaskan keputusan memindahkan lagi dana SAL sudah melalui proses perhitungan.
Namun, sebab dibutuhkan sinkronisasi kebijakan serta permintaan dari BI, Purbaya akhirnya dia menarik lagi dana SAL dari Himbara.
Tak hanya itu, “Bukan saya main-main atau maju mundur enggak ada perhitungan, tapi karena untuk mensinkronkan kebijakan dengan lembaga lain, termasuk dengan DPR. Pada waktu itu keputusannya diambil, di DPR sini saya ikut. Setelah ada koreksi, saya ikut juga. Jadi ke depan kita akan lebih hati-hati mengatur uang itu,” ujar Purbaya.
Purbaya kembali mengguyur perbankan dengan dana pemerintah sebesar Rp381 triliun hingga akhir tahun ini. Rinciannya Rp281 triliun akan langsung diberikan ke perbankan dan Rp100 triliun sebagai dana cadangan yang disimpan di Bank Indonesia (BI).
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengatakan kebijakan ini untuk memastikan likuiditas perbankan benar-benar terjaga dan sanggup menyalurkan kredit.
“Setelah dievaluasi, diambil kesimpulan bahwa dana pemerintah di perbankan akan dikembalikan lagi yang kemarin Rp281 triliun akan dikembalikan lagi Rp281 triliun dan diperpanjang hingga akhir 2026, Desember 2026,” ujar Juda dalam konferensi pers di DPR RI, Senin (29/6).
Perlu diketahui, Tak cuma itu, pemerintah juga menyiapkan Rp100 triliun demi berjaga-jaga apabila likuiditas diperlukan untuk memenuhi permintaan kredit.
Baca Juga:




