Bongkar Jeroan Kapal Induk Pertama RI, Seberapa Ngeri Kekuatannya?
Jakarta, CNBC Indonesia -Indonesia selangkah lagi akan memiliki kapal induk pertama dalam sejarah. Kapal induk eks-Angkatan Laut Italia, Giuseppe Garibaldi yang sudah berusia 40 tahun, kini tengah masuk tahap persiapan sebelum dibawa ke Tanah Air.
Prajurit TNI Angkatan Laut yang akan mengawaki kapal tersebut sudah berada di Italia untuk menjalani pelatihan intensif. Pelatihan ini menjadi bagian dari proses serah terima sebelum Garibaldi resmi memperkuat armada TNI AL.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Tunggul Waluyo mengatakan, setelah pelatihan selesai, Garibaldi akan berlayar ke Indonesia dengan skema Joint Crew, yakni pengawakan gabungan antara personel TNI AL dan Angkatan Laut Italia.
“Joint Crew itu merupakan personel pengawak yang terdiri atas sebagian prajurit TNI AL dan sebagian personel Angkatan Laut Italia. Setelah tiba di Indonesia akan dilaksanakan serah terima secara bertahap hingga mencapai 100% pengawakan oleh prajurit TNI Angkatan Laut,” ujar Tunggul dalam keterangan resmi, Rabu (15/7/2026).
Diketahui bahwa, Jika proses ini rampung, Giuseppe Garibaldi akan menjadi kapal induk pertama TNI AL. Kehadirannya juga akan membawa Indonesia masuk ke daftar negara Asia yang memiliki kapal induk.
Kapal ini dibangun di galangan Monfalcone dan menjadi salah satu kapal penting dalam sejarah Angkatan Laut Italia. Laman resmi Marina Militare mencatat kapal ini sebagai aircraft carrier kelas Garibaldi dengan nomor lambung 551.
Nama lengkapnya adalah Giuseppe Garibaldi, diambil dari tokoh nasional Italia yang sangat terkenal dalam sejarah penyatuan negara tersebut. Saat masih bertugas di Angkatan Laut Italia, kapal ini dikenal sebagai ITS Giuseppe Garibaldi atau Nave Garibaldi.
Secara desain, Garibaldi bukan kapal induk raksasa seperti milik Amerika Serikat atau China. Perannya dirancang untuk membawa helikopter, pesawat STOVL (short take off and vertical landing), operasi komando, serta mendukung operasi laut dan udara sekaligus. Kapal ini lebih tepat disebut kapal induk ringan.
Sementara itu, Garibaldi bisa mengoperasikan pesawat seperti AV-8B Plus Harrier II, meski ukuran deknya tidak sepanjang kapal induk besar.
Melansir Marina Miltare situs resmi Angkatan Laut Italia, pembuatan Giuseppe Garibaldi dimulai pada 20 Februari 1978, lalu kapal ini diluncurkan pada 4 Juni 1983 dan mulai bertugas pada 1985.
Untuk kelas kapal induk ringan, kapal ini punya kemampuan yang cukup baik.
Selama digunakan Italia, Garibaldi mampu membawa helikopter EH101, SH90A, dan AB212. Kapal ini turut bisa membawa pesawat taktis STOVL AV-8B Plus Harrier II. Pesawat Harrier inilah yang membuat Garibaldi punya kemampuan tempur udara dari laut.
Tak hanya itu, Dari sisi persenjataan, Garibaldi dilengkapi peluncur Albatros untuk rudal Aspide permukaan ke udara.
Kapal ini juga membawa tiga sistem DARDO dengan meriam Breda 40/70 untuk pertahanan jarak dekat.Marina Militarejuga menyebut kapal ini memiliki sistem pertahanan aktif dan pasif untuk melindungi diri dari ancaman di laut.
Pengalaman operasi kapal ini juga cukup panjang. Garibaldi pernah terlibat dalam operasi di Somalia pada 1994 dan 1995. Kapal ini juga mendukung operasi di Yugoslavia pada 1999, menjadi kapal komando dalam Operation Enduring Freedom pada 2001 sampai 2002, serta terlibat dalam operasi Lebanon pada 2006.
Pada 2011, Garibaldi juga terlibat dalam operasi di Libya. Setelah itu, kapal ini pernah menjadi flagship dalam operasi Uni Eropa Sophia pada 2015 sampai 2017 di kawasan Mediterania Tengah.
Perlu diketahui, Dengan pengalaman panjangnya, kapal yang sudah berusia lebih dari 40 tahun ini serta punya konsekuensi dari sisi biaya.
Meski Giuseppe Garibaldi sejauh ini disebut sebagai kapal hibah dari Italia, bukan berarti Indonesia tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Kapal sebesar ini tetap membutuhkan biaya besar untuk perawatan, pengoperasian, modernisasi, hingga penyesuaian dengan kebutuhan TNI AL.
Mengacu laporan parlemen Italia yang diberitakanReuters, biaya perawatan kapal ini diperkirakan sekitar 5 juta euro per tahun atau setara Rp103,5 triliun (asumsi kurs Rp20.710 per euro).
Selain biaya perawatan, Italia juga memperkirakan pembongkaran dan peremajaan kapal ini bisa memakan dana hampir 19 juta euro atau sekitar Rp393,49 miliar.
Baca Juga:




