Percaya Nggak Percaya! Ekonomi Korut Tiba-Tiba Moncer, Ini Penopangnya
Jakarta, CNBC Indonesia- Di tengah sanksi internasional yang masih membelit, ekonomi Korea Utara (Korut) justru menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Dimuat lamanThe Wall Street Journal(WSJ), dilaporkan bagaimana ekonomi negeri pimpinan Kim Jong Un itu berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Media AS itu bahkan menyebut Korut sebagai “kisah sukses ekonomi paling mengejutkan di dunia”. Gambaran tersebut muncul setelah sejumlah pengunjung asing yang kembali masuk ke negara itu pascapembukaan perbatasan pandemi menemukan wajah baru Pyongyang, lebih modern dibandingkan beberapa tahun lalu.
Di ibu kota Pyongyang, layanan taksi kini dapat dipesan melalui aplikasi telepon pintar layaknya Uber. Sistem pembayaran menggunakan kode QR juga mulai digunakan di sejumlah restoran.
Selain itu, kendaraan listrik juga wara wiri. Dilaporkan pula bagaimana apartemen bertingkat baru bermunculan, toko-toko hewan peliharaan, termasuk banyak warga yang menggunakan smartphone secara luas di berbagai sudut kota.
Diketahui bahwa, “Ini amat baru,” kata seorang tur operator Australia, Beard. “Membuatku tak bisa berkata-kata”.
Ya, selama kongres Partai Buruh Korut yang diadakan dua kali dalam satu dekade pada bulan Februari, Kim Jong Un memperjuangkan perubahan haluan ekonomi. Ia mendesak warga Korut untuk fokus membangun perekonomian yang mandiri.
Di balik perubahan tersebut, analis menilai sumber utama kebangkitan ekonomi Korut berasal dari hubungan yang semakin erat dengan Rusia dan China. Sejak perang Ukraina berlangsung, Pyongyang memperoleh pemasukan besar dari ekspor amunisi, persenjataan, hingga pengiriman personel ke Rusia.
Nilai pendapatan dari kerja sama tersebut diperkirakan mencapai lebih dari US$10 miliar atau sekitar Rp180 triliun. Selain Rusia, China tetap menjadi penyokong ekonomi utama Korut.
Sementara itu, Negeri Tirai Bambu masih menjadi mitra dagang terbesar Pyongyang dan menopang sebagian besar perdagangan legal negara tersebut. Hubungan ekonomi kedua negara juga terus diperkuat dalam beberapa tahun terakhir.
Merujuk data bank sentral Korea Selatan (Korsel), Bank of Korea (BOK), ekonomi Korut diperkirakan tumbuh sekitar 3,7% pada 2024, menjadi pertumbuhan tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Kinerja itu terjadi setelah aktivitas ekonomi sempat terpuruk akibat penutupan perbatasan selama pandemi Covid-19.
Meski demikian, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa lonjakan ekonomi tersebut belum tentu mencerminkan fondasi ekonomi yang kuat. Banyak pemasukan Korut masih bergantung pada faktor eksternal, terutama kerja sama dengan Rusia, perdagangan menggunakan China, serta aktivitas siber ilegal seperti pencurian aset kripto yang selama ini dituduhkan kepada Pyongyang.
Merujuk artikel opini diChannel News Asia(CNA), Analis urusan Korea yang berbasis di Seoul, Dr. Tetapi sebagian besar ditopang oleh pemasukan dari luar negeri, bukan produktivitas domestik yang berkelanjutan. Gabriela Bernal, menilai pertumbuhan ekonomi Korut memang nyata.
Tak hanya itu, Menurutnya, pertanyaan utama saat ini bukan apakah Korut menjadi lebih kaya. Melainkan, apakah pertumbuhan dimaksud mampu bertahan dalam jangka panjang.
Sementara itu, tanda-tanda pembangunan terus terlihat di Pyongyang. Pemerintah Kim Jong Un membangun puluhan ribu unit rumah baru, memperluas infrastruktur kota, serta menjalankan program modernisasi kawasan pedesaan yang selama ini tertinggal jauh dibanding ibu kota.
Meski wajah Pyongyang semakin modern, kesenjangan dengan daerah-daerah lain masih menjadi tantangan besar. Banyak wilayah di luar ibu kota masih menghadapi keterbatasan pangan, layanan kesehatan, dan infrastruktur dasar.
Karena itu, sejumlah ekonom menilai kebangkitan ekonomi Korut saat ini lebih mencerminkan kemakmuran elite dan pusat kekuasaan dibanding kesejahteraan yang merata bagi seluruh penduduk negara tersebut. Di luar ibu kota, Korut masih miskin, dengan hampir separuh dari 26 juta penduduknya mengalami kekurangan gizi, menurut laporan PBB.
Baca Juga:




