AS Siapkan Opsi Serangan Baru ke Iran, Trump Buka Skenario Ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Serangan udara terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran disebut tidak hanya bertujuan memaksa Teheran membuka kembali Selat Hormuz, tetapi ikut melemahkan kemampuan militer Iran sebagai persiapan jika Washington memutuskan melancarkan operasi yang lebih besar.
Tiga pejabat AS yang mengetahui rencana tersebut mengungkapkan serangan itu telah memperluas pilihan militer Presiden Donald Trump. Salah satu pejabat AS mengatakan rangkaian serangan terhadap sistem pertahanan udara, radar pantai, situs rudal dan drone, hingga aset maritim Iran merupakan bagian dari upaya membentuk kondisi sebelum kemungkinan operasi berikutnya.
“Ini membantu mempersiapkan panggung, jika diperlukan,” ujar pejabat tersebut, seperti dikutipReuters, Kamis (16/7/2026).
Menurut para pejabat yang berbicara menggunakan syarat anonim, serangan itu secara efektif memperkuat opsi militer yang kini dimiliki Trump. Pernyataan tersebut muncul setelah Trump memberi tahu Kongres pada akhir pekan lalu bahwa konflik dengan Iran secara resmi kembali dimulai, memicu spekulasi mengenai langkah Washington selanjutnya.
Diketahui bahwa, Perang Iran kini telah memasuki bulan kelima setelah nota kesepahaman yang sebelumnya diharapkan menghentikan pertempuran gagal dipertahankan. Meski telah mengalami kerusakan besar akibat kampanye militer AS dan Israel sejak 28 Februari, Iran masih mempunyai persediaan drone dan rudal yang signifikan serta terus melancarkan serangan terhadap kapal tanker dan sejumlah negara di kawasan Teluk.
Sementara itu, Pentagon belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait laporan tersebut. Sebelumnya, Reuters pada Maret melaporkan bahwa militer AS sudah menyusun sejumlah skenario, termasuk pengerahan pasukan ke garis pantai Iran untuk mengamankan Selat Hormuz dan kemungkinan operasi ke Pulau Kharg, pusat sekitar 90% ekspor minyak Iran.
Trump pada Selasa mengatakan dirinya sebelumnya telah memerintahkan militer AS untuk tidak menyerang fasilitas minyak Iran saat operasi di sekitar Pulau Kharg. Namun, ia menegaskan opsi merebut pulau strategis tersebut tetap terbuka.
“Jika kita melemahkan mereka cukup jauh dan cukup dalam, saya bakal melakukannya,” kata Trump kepadaFox News.
Sementara itu, Selain itu, Trump juga mengancam akan menyerang fasilitas yang berkaitan dengan program nuklir Iran, termasuk kompleks bawah tanah Gunung Pickaxe yang berada di dekat salah satu fasilitas nuklir utama Teheran.
Pakar militer dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Mark Cancian, menilai pernyataan terbuka Trump mengenai kemungkinan merebut Pulau Kharg memiliki dua sisi. Menurutnya, ancaman tersebut dapat meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Iran, tetapi sekaligus mengurangi keuntungan strategis militer AS.
“Itu buruk bagi militer, karena kita mengatakan ke mana kita mungkin bakal pergi,” ujarnya.
Di sisi lain, sejumlah anggota Kongres AS mengkritik strategi Trump. Mereka menilai operasi militer sejauh ini memang berhasil melemahkan sebagian masif kekuatan militer konvensional dan industri pertahanan Iran, tetapi belum mampu memaksa Teheran memberikan konsesi politik. Bahkan, konflik justru meningkatkan pengaruh Iran di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia.
Baca Juga:




