16 Juli 2026 Stories worth reading. Perspectives worth sharing.
BREAKING
Hilirisasi Jadi Kunci Freeport Hadapi Masa Depan Tambang Berkelanjutan
Ekonomi

Hilirisasi Jadi Kunci Freeport Hadapi Masa Depan Tambang Berkelanjutan

admin Juli 16, 2026 3 min read

PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadikan hilirisasi sebagai salah satu strategi utama bagi menjaga keberlanjutan industri pertambangan di tengah meningkatnya kebutuhan mineral global seiring percepatan transisi energi.

Permintaan terhadap mineral, terutama tembaga, terus meningkat karena menjadi bahan baku penting dalam produksi kendaraan listrik, pembangunan jaringan kelistrikan, hingga pengembangan energi terbarukan. Di sisi lain, industri pertambangan juga dituntut mampu menekan emisi karbon, menjalankan praktik operasional yang bertanggung jawab, serta menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Menjawab tantangan tersebut, PTFI mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis melalui pengembangan tambang bawah tanah, pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri, serta penerapan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) dalam kegiatan operasional.

Salah satu langkah strategis perusahaan diwujudkan melalui pengoperasian smelter baru di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur, yang diresmikan pada Juni 2024. Fasilitas itu disebut sebagai smelter single line terbesar di dunia dan menjadi bagian penting dalam penguatan program hilirisasi mineral nasional.

Diketahui bahwa, Smelter dimaksud memiliki kapasitas pengolahan hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun yang dapat menghasilkan sekitar 1 juta ton katoda tembaga. Selain itu, fasilitas itu turut memproduksi logam ikutan bernilai tinggi seperti emas dan perak.

Keberadaan smelter di KEK Gresik juga diharapkan mampu mendorong terbentuknya ekosistem industri hilir berbasis tembaga, termasuk untuk mendukung pengembangan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai hilirisasi akan memperkuat daya saing ekspor nasional.

“Tentu ke depan Indonesia bakal mampu untuk meningkatkan ekspornya. Kalau ekspor kita kuat, maka rupiah kita bisa stabil,” ujar Airlangga.

Sementara itu, Bagi PTFI, hilirisasi tidak hanya berfungsi memperpanjang rantai nilai industri pertambangan, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun ekosistem industri berbasis tembaga di dalam negeri. Ketersediaan katoda tembaga domestik dinilai dapat memenuhi kebutuhan industri manufaktur, mulai dari komponen kendaraan listrik, kabel, hingga berbagai produk turunan lainnya.




Komitmen terhadap keberlanjutan juga diwujudkan melalui penerapan prinsip ESG di berbagai lini operasional perusahaan.

Direktur & Executive Vice President Sustainable Development PTFI Claus Wamafma mengatakan beroperasinya smelter baru akan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen utama katoda tembaga dunia di tengah proyeksi kenaikan permintaan global.

“Hal ini rencananya menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain kunci dalam supply tembaga secara global, di saat demand tembaga yang akan diprediksi terus meningkat,” kata Claus.

Tak hanya itu, Pada aspek lingkungan, PTFI menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 30 persen pada 2030. Target tersebut didukung melalui pengoperasian kereta listrik di tambang bawah tanah serta program penanaman mangrove seluas 100 hektare setiap tahun.

Sementara pada aspek sosial, perusahaan menjalankan berbagai program pendidikan melalui pemberian beasiswa, pembangunan sekolah, serta pelatihan guru. Di sektor kesehatan, PTFI menyediakan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat tujuh suku di Papua, sekaligus membangun fasilitas kesehatan dan menjalankan program kesehatan masyarakat.

Perusahaan juga menyuguhkan dukungan kepada pelaku UMKM melalui akses pasar dan pelatihan keterampilan guna meningkatkan kapasitas usaha. Di bidang infrastruktur, PTFI turut berkontribusi dalam pembangunan jalan, jembatan, serta berbagai fasilitas umum untuk menunjang mobilitas masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Ke depan, keseimbangan antara produktivitas, efisiensi energi, pengurangan emisi, dan peningkatan nilai tambah diperkirakan menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing industri pertambangan nasional.

Perlu diketahui, Melalui hilirisasi dan penerapan prinsip keberlanjutan, PTFI berharap dapat menjaga keberlangsungan operasional perusahaan sekaligus memperkuat kontribusi terhadap pengembangan industri mineral Indonesia.

Baca Juga:

Leave a Comment