Konsumsi BBM Pertalite Tembus 80% dari Total Bensin RI
Jakarta, CNBC Indonesia -PT Pertamina Patra Niaga mencatat porsi konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite sudah mendominasi hingga 80% dari total konsumsi bensin (gasoline) secara nasional.
Lonjakan tersebut disinyalir dampak dari migrasi konsumen yang sebelumnya menggunakan BBM non-subsidi menjadi ke BBM bersubsidi Pertalite.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menjelaskan, pergeseran konsumsi ke BBM bersubsidi tersebut memicu lonjakan permintaan Pertalite di berbagai wilayah dan mendorong perusahaan melakukan penyesuaian untuk menjaga ketersediaan stok di SPBU.
“Kalau secara komposisi perubahannya pada saat periode Januari-Mei kondisi untuk produk JBKP Pertalite secara komposisi sekitar 75%, saat ini sudah bergeser ke 80%. Jadi hampir 5% komposisi BBM gasoline itu sudah bergeser ke BBM PSO,” ungkapnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Diketahui bahwa, Pertamina mencatat bahwa permintaan masyarakat terhadap Pertamax Series mengalami penurunan dibandingkan dengan periode awal tahun. Hal itu sebanding dengan peningkatan penggunaan Pertalite.
“Dampaknya adalah saat ini produk-produk BBM JBU khususnya Pertamax series terjadi penurunan hampir 18% dibandingkan periode sebelumnya,” katanya.
Senada dengan itu, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat realisasi penyaluran Pertalite per 30 Juni 2026 menyentuh 13,96 juta kilo liter (kl) dari kuota tahun ini sebesar 29,27 juta kl.
“Realisasi penyaluran mencapai 13,96 juta kiloliter atau setara 47,68% dari kuota yang ditetapkan dalam APBN 29,27 juta kilo liter,” ungkap Kepala BPH Migas Wahyudi Anas, dalam kesempatan yang sama, Kamis (16/7/2026).
Sementara itu, Selain perpindahan konsumen jenis Pertalite, Wahyudi menyebutkan perpindahan konsumen ke produk subsidi juga terjadi di BBM bersubsidi jenis solar. Volume penggunaan Solar subsidi tercatat mengalami kenaikan sebesar 13,9%, sementara produk Dex Series justru mengalami penurunan permintaan sekitar 6,4%.
“Posisi kenaikan saat ini memang di sektor Solar, ini pasca kenaikan jenis bahan bakar umum baik itu Dex series dan kemudian Pertamax dan lain-lain, itu terjadi kenaikan di mana masyarakat cenderung yang semula menggunakan BBM non-subsidi beralih menjadi subsidi,” tandasnya.
Seperti diketahui, pergeseran konsumsi ke BBM bersubsidi ini turut sejalan dengan kenaikan harga BBM non subsidi, khususnya Pertamax (RON 92), sejak 10 Juni 2026 lalu.
Berdasarkan situs PT Pertamina Patra Niaga, Pertamina menaikkan harga BBM non subsidi Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (setara RON 95) mulai Rabu, 10 Juni 2026.
Tak hanya itu, Di DKI Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax (RON 92) mulai 10 Juni 2026 dibanderol Rp 16.250 per liter, naik Rp 3.950 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter.
Untuk Pertamax Green 95 kini dibanderol Rp 17.000 per liter, naik Rp 4.100 per liter dari sebelumnya dibanderol Rp 12.900 per liter.
Adapun, di Sumatra Utara, harga BBM Pertamax kini dibanderol Rp 16.650 per liter.
Ini merupakan kenaikan harga BBM Pertamax perdana setelah lonjakan harga minyak dunia akibat perang Israel-Iran pecah sejak 28 Februari 2026 lalu. Ketika harga BBM non subsidi lainnya sudah mengalami kenaikan harga sejak 18 April 2026 lalu, harga BBM Pertamax masih belum mengalami penyesuaian harga.
Perlu diketahui, Sementara harga BBM bersubsidi seperti Pertalite (RON 90) dan Solar bersubsidi masih tetap atau tidak mengalami perubahan, masing-masing dibanderol Rp 10.000 dan Rp 6.800 per liter.
Baca Juga:




