30 Tahun Tak Berhasil Berunding, RI Diklaim Untung Dagang serta AS
Jakarta, CNBC Indonesia -Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkap alasan di balik belum terwujudnya perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), meski pembahasannya telah berlangsung hampir 30 tahun.
Menurut Budi, salah satu penyebab utamanya karena Amerika Serikat menyadari negaranya justru akan menjadi pasar besar bagi produk-produk Indonesia. Hal itu tercermin dari neraca perdagangan kedua negara yang selama ini selalu mencatatkan surplus bagi Indonesia.
“Surplus terbesar kita itu ke Amerika. Nah surplus kita ke Amerika nilainya US$18,11 miliar, baru kemudian diikuti India US$14 miliar, dan seterusnya,” ujar Budi dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (16/7/2026). Jadi surplus pertama itu Amerika, kemudian India, Filipina, Belanda, dan Vietnam. Lima itu surplus.
Ia mengatakan, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat mencapai sekitar US$30,9 miliar atau sekitar 11% dari total pasar ekspor nasional. Besarnya nilai tersebut membuat pemerintah terus mengupayakan terjalinnya kesepakatan dagang dengan Negeri Paman Sam.
Diketahui bahwa, “Kita berunding dengan Amerika itu sudah dimulai sejak tahun 1996. Sudah 30 tahun, tapi tidak pernah berhasil,” katanya.
Budi menjelaskan, Indonesia dan Amerika Serikat sebenarnya telah membentuk Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) pada Juli 1996 sebagai wadah untuk membahas kerja sama perdagangan. Namun, hingga kini kesepakatan tersebut tak pernah benar-benar terwujud.
“Bulan Juli 1996 kita membuat apa yang dinamakan TIFA, Trade and Investment Framework Agreement. Jadi itu sebuah wadah untuk membuat perjanjian dagang dengan Amerika, tapi selalu gagal. Kenapa? Karena Amerika tahu kalau Amerika itu justru akan menjadi pasar produk-produk Indonesia. Dan ini terbukti. Buktinya kita surplus,” ucap dia.
Ia pun membantah anggapan Indonesia dirugikan dalam hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Menurutnya, justru Indonesia menikmati keuntungan dari neraca perdagangan, sementara barang yang diimpor dari AS merupakan komoditas yang memang dibutuhkan di dalam negeri.
Sementara itu, “Jadi kalau mungkin sebagian (orang) menyampaikan kita dirugikan, tapi dari neraca perdagangan kita untung. Jadi potensi pasar kita cukup besar,” jelas Budi. Kita impor dari Amerika kan serta kebutuhan-kebutuhan yang kita perlukan. Kita impor gandum, kita impor kedelai yang memang kita nggak punya.
Karena itu, Budi menilai momentum pembahasan Agreement on Reciprocal Trade (ART) menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk akhirnya memiliki kesepakatan dagang yang selama ini tak kunjung tercapai.
“Karena saya kira justru kemarin ketika kesempatan ART dengan Bapak Presiden, menurut saya justru itu momen yang luar biasa. Karena kita sudah nunggu 30 tahun. Jadi menurut saya itu kesempatan yang bagus buat kita,” ujarnya.
Di sisi lain, Budi memaparkan kebijakan tarif impor Amerika Serikat saat ini masih dalam masa transisi. Setelah skema ART dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS, pemerintah AS menetapkan tarif masuk sementara sebesar 10% selama 150 hari yang akan berakhir pada 24 Juli 2026.
Tak hanya itu, Selanjutnya, pemerintah AS tengah menyiapkan kebijakan baru melalui investigasi Section 301. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, Indonesia masuk ke dalam kelompok 14 negara yang berpotensi dikenakan tarif masuk 10%, lebih rendah dibandingkan 46 negara lainnya yang berpotensi dikenai tarif 12,5%.
Meski demikian, pemerintah Indonesia masih terus melakukan pendekatan kepada AS, termasuk memperjuangkan agar sejumlah komoditas strategis Indonesia dapat memperoleh tarif yang lebih rendah, kalau bisa 0%.
“Terus kita lakukan pendekatan, termasuk kita tetap mengupayakan komoditas-komoditas tertentu yang disepakati di ART,” kata Budi kepada wartawan saat ditemui usai rapat.
Ia pun mengaku optimistis komoditas strategis tersebut bisa mendapatkan tarif bea masuk 0%, karena telah menerima sinyal positif dari pemerintah AS.
Perlu diketahui, “Iya iya. Untuk komoditas tertentu itu, Tapi kan kita dengan dasar ART yang ada itu kan kita dapat sinyal positif dari sana. Artinya memang ada prioritas yang sudah punya ART. Jadi mudah-mudahan semua smooth itu ya,” pungkasnya.
Baca Juga:




