Biaya Hidup Naik, Tukang Cukur Ini Tetap Pasang Tarif Rp5.000
Di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, seorang tukang cukur di Bogor, Jawa Barat, memilih tetap mempertahankan tarif potong rambut Rp5.000.
Supri 62 tahun pemilik jasa cukur rambut melayani pelanggan di Kawasan jalan Pemuda, Bogor, Jawa Barat, Kamis, (16/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dan biaya operasional, seorang tukang cukur di Kota Bogor, Jawa Barat, memilih tetap mempertahankan tarif potong rambut Rp5.000. Keputusan itu diambil demi membantu pelanggan setianya yang mayoritas berasal dari kalangan pelajar hingga pekerja harian. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
“Saya targetnya kelas menengah kebawah yang mau motong murah tapi tetap rapih” katanya saat ditemui CNBC Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Diketahui bahwa, Menurut Supri, sebagian masif pelanggannya merupakan warga sekitar, mulai dari anak sekolah, pengemudi ojek online, buruh, pedagang, hingga pelanggan lama yang telah bertahun-tahun menggunakan jasanya. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Pantauan CNBC Indonesia, dalam waktu sekitar satu jam, sedikitnya 17 pelanggan datang untuk memangkas rambut. Sejumlah pengunjung juga terlihat antri menunggu giliran di bangku yang sudah di siapkan. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Sementara itu, satu pelanggan umumnya membutuhkan waktu sekitar lima hingga sepuluh menit, dengan model rambut pendek dan rapi. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Meski keuntungan yang diperoleh tidak besar, Mang Supri mengatakan usahanya masih mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Ramainya pelanggan menjadi penopang utama keberlangsungan usaha tersebut.
Sementara itu, Di sisi lain, biaya operasional terus meningkat. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Pengeluaran untuk listrik, penggantian mata pisau, servis mesin cukur, hingga pembelian perlengkapan setiap bulan mencapai ratusan ribu hingga lebih dari satu juta rupiah. Demi menyiasatinya, ia menghemat penggunaan perlengkapan dan merawat alat kerja agar tetap awet tanpa mengurangi kualitas pelayanan.
Supri juga menilai kondisi ekonomi membuat masyarakat semakin selektif dalam membelanjakan uang. Banyak pelanggan memilih jasa cukur murah agar sisa uang dapat digunakan untuk kebutuhan lain. Bahkan, menurutnya, ada pelanggan yang sengaja memilih tarif Rp5.000 karena selisih biaya dibanding tempat lain bisa dimanfaatkan untuk uang jajan anak atau kebutuhan sehari-hari. “Ada anak sekolah, dia bilang sama orang tuanya Rp20 ribu karena cukur disini Rp5000 jadi ada sisanya buat dia jajan” tambahnya sambil tertawa. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Bagi Supri, pelanggan bukan sekadar orang yang datang demi memangkas rambut, melainkan sudah menjadi bagian dari keluarga lantaran terus kembali selama bertahun-tahun. Ia pun berharap usahanya tetap ramai. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Baginya, keputusan itu masih sangat sulit untuk dipertimbangkan. Soal kemungkinan menaikkan tarif, Supri hanya tertawa. “Kalau untuk naikin harga dipikir setahun dua tahun dulu” tutupnya.
Usaha yang sudah ia geluti sejak 1988 ini awalnya mematok tarif Rp2.000, sebelum menaikkannya menjadi Rp5.000 pada 2005. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Sejak saat itu hingga sekarang, selama lebih dari dua pukuh tahun, harga tersebut tidak pernah berubah tetap Rp5000.
Tak hanya itu, Salah seorang pelanggan Amar 22 tahun mengaku telah menjadi langganan sejak duduk di bangku SMP hingga kini telah bekerja. Menurutnya, “selain harga yang murah, Mang Supri dan rekannya, Mang Ipul, sudah hapal model rambut pelanggan yang biasa kesini” kata Amar saat berpose foto sebelum dan sesudah dicukur. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Baca Juga:




