Harga Minyak Naik Lagi ke US$85,28 Imbas Kian Panas Perang AS-Iran
Harga minyakdunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (17/7) imbas konflikAmerika Serikat(AS) danIrankembali memanas.
Eskalasi serangan kedua negara memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dari Timur Tengah, termasuk ancaman penutupan jalur pelayaran Laut Merah.
MengutipReuters, harga minyak Brent naik US$1,05 atau naik 1,25 persen menjadi US$85,28 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,03 atau 1,3 persen menjadi US$79,98 per barel, sekaligus memangkas pelemahan pada sesi sebelumnya.
Sepanjang pekan ini, kedua kontrak acuan itu telah melonjak hampir 12 persen. Brent berada di jalur kenaikan mingguan ketiga berturut-turut, sedangkan WTI berpotensi mencatat kenaikan mingguan kedua beruntun.
Diketahui bahwa, Kenaikan harga minyak terjadi setelah AS dan Iran meningkatkan intensitas serangan di kawasan Teluk. Gencatan senjata yang sempat disepakati kedua negara praktis runtuh, sehingga kembali mengganggu arus ekspor minyak melalui Selat Hormuz.
Untuk pertama kalinya sejak nota kesepahaman penghentian konflik disepakati bulan lalu, militer AS melancarkan dua gelombang luas serangan udara dalam satu hari pada Rabu lalu, yang sebagian besar menyasar wilayah pesisir selatan Iran. Serangan tersebut berlanjut hingga Kamis.
Komando Pusat Militer AS menyatakan pasukannya memulai gelombang baru serangan terhadap Iran untuk malam keenam secara berturut-turut. Operasi itu disebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran.
Sebagai balasan, Teheran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara sekitar, termasuk serangan ke pangkalan udara di Yordania.
Sementara itu, Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah tiga sumber Reuters menyebut pemerintah Iran meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur ekspor minyak melalui Laut Merah apabila AS menyerang infrastruktur energi Iran.
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol menyebutkan keamanan pasokan minyak masih menjadi perhatian utama di tengah meningkatnya tensi geopolitik.
“Kita harus khawatir, dan saya khawatir jika situasi tidak membaik dalam beberapa minggu ke depan,” kata Birol dalam sebuah forum di Washington.
Analis IG menilai secara teknikal harga WTI berpotensi menguji level pertengahan US$80 per barel apabila mampu bertahan di atas area support pada kisaran pertengahan US$70 per barel.
Baca Juga:




