Perdagangan RI-China Tembus US$9 Miliar via LCT, Dolar Mulai Tergeser?
Jakarta, CNBC Indonesia -Dalam menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) tidak semata mengandalkan instrumen cadangan devisa. Bank sentral kini juga mengunakan instrumen kebijakan baru, yakni Local Currency Transaction (LCT).
Dikutip dari BI, LCT adalah skema penyelesaian transaksi lintas negara (ekspor-impor, investasi, dan layanan lainnya) yang dilakukan secara bilateral dengan menggunakan mata uang lokal masing-masing negara. Hal ini menghilangkan kebutuhan untuk mengonversi mata uang ke dolar Amerika Serikat (USD) terlebih dahulu.
Wakil Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan LCT telah dijalankan oleh 9 negara mitra yakni, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Vietnam, Laos, Brunei Darussalam, Jepang, dan Korea Selatan.
Menurut Destry, pertumbuhan LCT pesat dicatatkan dengan China dan Jepang.
Diketahui bahwa, “Kami di BI memfasilitasi dengan spot CNY atau yen terhadap rupiah. Mereka (investor hingga pedagang) butuh kurs yuan dan yen bisa domestik. Apalagi perdagangan dengan China dengan LCT US$ 9 miliar per Mei,” kata Destry, dalam Investment Forum 2026, Rabu (15/7/2026).
Destry yakin jika LCT bisa dioptimalkan dengan mekanisme LCT, tentunya permintaan dolar berkurang. Langkah-langkah strategis ini, kata Destry, akan disosialisasikan bersama-sama bank sentral China untuk pendalaman valas di luar dolar.
“Ini kalau kita bisa manage bisa kasih dampak positif ke ekonomi,” paparnya.
Baca Juga:




