7 Gaya Parenting Orang Tua dengan Kecerdasan Emosional
Membangunkecerdasan emosionalpada anak penting untuk kesuksesannya di masa depan. Namunorang tuajuga harus bisa jadi role model yang tepat demi anaknya.
Orang tua yang memiliki kecerdasan emosional tentu lebih bisa menanamkan hal-hal yang lebih baik bagi anaknya, terutama dalam mengelola emosi dan tindakan.
Adapun menurutVerywell Mind, jenis kecerdasan ini tergolong lebih penting ketimbang IQ dalam menentukan kesuksesan pribadi dan profesional seseorang.
Nah, jika ingin anak mendapat kesuksesan tersebut, ada beberapa gaya parenting orang tua dengan kecerdasan emosional yang bisa ditiru:
Diketahui bahwa, “Orang tua yang cerdas secara emosional mengenali perasaan anak mereka, bahkan ketika mereka tidak setuju dengan perspektif anak atau merasa kesulitan memahami waktu munculnya emosi tersebut,” kata psikolog klinis sekaligus pakar parenting Laura Markham, dilansirGood Housekeeping.
Sikap ini membantu anak merasa didengar dan dipahami. Dalam jangka panjang, empati seperti ini dapat meningkatkan kemampuan anak mengelola emosi dan membangun kepercayaan diri.
Ketimbang terus-menerus memberi instruksi, orang tua yang cerdas secara emosional sering mengajukan pertanyaan atau menawarkan beberapa opsi.
“Orang tua dapat menyuruh, menyarankan, atau bertanya. Bertanya memberikan latihan kognitif paling banyak untuk fungsi mental anak-anak kita, saran memberikan sedikit, dan menyuruh apa yang harus dilakukan menghasilkan relatif sedikit,” ujar Maurice J. Elias, profesor psikologi di Universitas Rutgers.
Sementara itu, Orang tua tidak selalu benar. Namun bagi orang tua yang cerdas secara emosional, meminta maaf bukan dianggap sebagai kelemahan, melainkan bagian dari tanggung jawab.
Saat orang tua salah, mereka mengakuinya dan memperbaikinya. Dengan begitu, anak belajar bahwa konflik bisa diselesaikan dengan jujur, bukan dengan saling menyalahkan.
Orang tua menggunakan kecerdasan emosional mampu mendengarkan tanpa menghakimi, terutama saat anak sedang marah atau kecewa, termasuk ketika melakukan kesalahan.
“Sebelum menetapkan batasan, orang tua dapat berempati dengan kemarahan tersebut. Mendengarkan akan membangun koneksi terlebih dahulu. Keadilan sangat penting bagi anak-anak,” tutur John Gottman, psikolog dan profesor emeritus psikologi di Universitas Washington. Itu memudahkan anak untuk mempercayai bahwa orang tua akan bersikap adil.
Tak hanya itu, Saat anak tantrum atau berkata kasar, respons spontan orang tua sering kali justru memperburuk situasi. Di sisi lain, orang tua yang matang secara emosional cenderung berhenti sejenak, menarik napas, lalu memilih respons yang lebih tenang.
MenurutTimes of India, kebiasaan kecil ini juga dapat mengajarkan anak bahwa emosi tidak harus meledak menjadi konflik. Anak pun belajar pengendalian diri menjadi hal yang sangat mungkin dilakukan.
Orang tua yang memiliki kecerdasan emosional bukan berarti selalu permisif akan segala tindak tanduk anak. Mereka tetap memberi aturan, tetapi tanpa mempermalukan atau merendahkan anak.
Mereka memahami bahwa membangun disiplin akan lebih efektif jika anak merasa aman dan dihormati. Teguran yang disampaikan tanpa hinaan membuat anak lebih mudah menerima pelajaran, bukan malah merasa takut atau tertekan.
Perlu diketahui, Anak jauh lebih mudah meniru apa yang mereka lihat ketimbang apa yang mereka dengar. Itulah yang dilakukan orang tua dengan kecerdasan emosional.
Mereka berusaha menunjukkan perilaku yang ingin diajarkan, seperti tenang saat stres, jujur saat salah, dan sopan saat berbeda pendapat. Dalam banyak hal, parenting bukan hanya tentang memberi nasihat, tetapi juga tentang memberi teladan nyata.
Menerapkan gaya parenting yang mendukung kecerdasan emosional memang tidak selalu mudah, tetapi hasilnya sangat berharga.
Baca Juga:




