El Nino Lumpuhkan Listrik India, Harga Batu Bara Kok Masih Adem Ayem?
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga batu bara masih stagnan.
MerujukRefinitiv,harga batu bara ditutup di posisi US$ 130,5 per ton pada perdagangan Rabu (15/7/2026). Harganya melandai 0,11%.
Pelemahan ini memperpanjang tren stagnan batu bara yang hanya bergerak di kisaran US$ 130 dalam tiga hari terakhir.
Stagnannya harga batu bara dipicu sejumlah faktor, terutama tarik menarik sentimen.
Diketahui bahwa, Produksi batu bara China anjlok pada Juni setelah ledakan maut di sebuah tambang memicu inspeksi keselamatan besar-besaran di salah satu wilayah tambang utama negara tersebut.
China memproduksi 381 juta ton batu bara pada Juni, turun 9,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini merupakan penurunan tahunan terbesar sejak 2016.
Penurunan produksi terjadi setelah ledakan di sebuah tambang di Provinsi Shanxi pada akhir Mei yang menewaskan 82 orang. Insiden itu mendorong inspeksi keselamatan secara luas di provinsi yang menyumbang sekitar 25% produksi batu bara China.
Di sisi lain, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara di China hanya mencatat kenaikan produksi listrik 0,5% pada Juni, laju paling lambat sepanjang tahun ini.
Sementara itu, Meski demikian, produksi listrik PLTU masih tumbuh 2,9% sepanjang semester pertama 2026 setelah sempat turun pada 2025 demi pertama kalinya dalam satu dekade.
Produksi listrik tenaga air (PLTA) India menghadapi tekanan akibat fenomena El Nino yang melemahkan musim hujan (monsun) barat daya. Kondisi ini menurunkan volume air waduk, meningkatkan ketergantungan pada batu bara, dan membebani sistem kelistrikan di tengah lonjakan permintaan listrik.
Kekurangan pasokan PLTA ini bisa membuat India kembali meningkatkan produksi batu bara.
Pada Juni 2026, produksi listrik tenaga air India turun sekitar 21% secara tahunan menjadi 13.361 GWh, dari 16.775 GWh pada Juni 2025.
Tak hanya itu, Tren pelemahan berlanjut pada Juli. Pada 12 Juli saja, produksi tercatat 550,24 juta unit (MU), turun 22% secara tahunan dan sekitar 16% di bawah target harian. Hingga 12 Juli, produksi listrik tenaga air turun rata-rata 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sepanjang April hingga 12 Juli, produksi listrik tenaga air mencapai 43.441 MU, turun 9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kapasitas waduk juga mengalami penurunan. Dari 20 waduk pembangkit listrik tenaga air utama di India, 7 waduk memiliki volume air di bawah atau sama dengan kondisi normal, lebih tinggi dibandingkan hanya 4 waduk pada tahun lalu.
Dampak El Nino paling terasa di wilayah kaya sumber daya air seperti Himachal Pradesh, Uttarakhand, Jammu & Kashmir, Karnataka, dan kawasan Timur Laut India.
Perlu diketahui, Tak cuma mengurangi produksi listrik tenaga air, El Nino juga meningkatkan permintaan listrik akibat suhu yang lebih tinggi serta melemahkan produksi listrik tenaga angin.
Permintaan listrik India terus meningkat karena urbanisasi, pertumbuhan industri, kendaraan listrik (EV), pusat data (data center), serta kebutuhan pendingin udara.
Beban puncak listrik India mencapai rekor 271 GW pada Mei, didorong gelombang panas. Rekor dimaksud bahkan pecah selama empat hari berturut-turut dalam satu pekan.
Harga listrik di pasar spot juga melonjak. Harga penyelesaian transaksi di pasar harian Indian Energy Exchange naik 32% secara tahunan menjadi 5,2 rupee per unit pada Juni.
Baca Juga:




