Jangan Terlena Reli Bitcoin, Bahaya Besar Mengintai Pasar Kripto!
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar aset kripto bergerak moderat bersama kecenderungan fluktuatif pada perdagangan Kamis (16/07/2026).
Sentimen pasar saat ini dipengaruhi oleh dua katalis utama, yaitu runtuhnya gencatan senjata di Timur Tengah yang memicu serangan militer baru Amerika Serikat (AS) ke Iran, serta ketegasan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh yang menolak opsi penyelamatan finansial (bailout) bagi sektor kripto dan stablecoin jika terjadi krisis likuiditas.
Meskipun data inflasi AS periode Juni mencatatkan penurunan, kembalinya blokade di Selat Hormuz berpotensi memicu tekanan inflasi baru dari sektor energi. Hal ini membuat Bitcoin (BTC) tertahan di kisaran $64.000 akibat ketidakpastian moneter yang kembali meningkat.
Kinerja Pasar: Bitcoin Bergerak Mendatar, Ethereum Menguat Terukur
Diketahui bahwa, Berdasarkan data perdagangan terkini, Bitcoin (BTC) diperdagangkan pada level $64.634,15. Area ini memperlihatkan fase konsolidasi setelah volatilitas dominan di pasar makro. Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini bergerak stabil dengan penguatan harian minor sebesar +0,03%, serta mempertahankan kinerja positif mingguan di angka +4,28%.
Sementara itu, Ethereum (ETH) menunjukkan performa yang lebih progresif dengan diperdagangkan pada level $1.920,04. ETH membukukan kenaikan harian sebesar +2,81% dan mencatatkan apresiasi mingguan yang solid mencapai +10,65%.
Penguatan ETH mengindikasikan adanya aliran modal selektif ke dalam aset fundamental utama, di tengah kehati-hatian investor terhadap instrumen yang lebih spekulatif.
Pada sektor altcoin, Zcash (ZEC) kembali menjadi perhatian utama pasar dengan lonjakan mingguan tertinggi sebesar +23,74% ke level $568,11. Kenaikan tajam pada Zcash ini didorong oleh fungsinya sebagai aset privasi di tengah memanasnya kembali konflik bersenjata global.
Sementara itu, Di sisi lain, Hyperliquid (HYPE) naik +2,00% harian ke posisi $66,54, sedangkan Binance Coin (BNB) bergerak mendatar di level $579,44. Secara umum, pasar altcoin bergerak sangat bergantung pada beta masing-masing aset terhadap perkembangan risiko geopolitik.
Katalis Geopolitik: Gencatan Senjata Runtuh, Blok Hormuz Diberlakukan Kembali
Dinamika keamanan global memburuk setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap sistem pertahanan pantai dan lokasi rudal jelajah Iran di Pulau Greater Tunb pada hari Rabu.
Langkah ofensif ini diambil oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) guna merespons keputusan unilateral Iran yang kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu malam lalu. Iran menyatakan sedang berada dalam “perang eksistensial” dan mengancam akan memperluas disrupsi logistik ke Selat Bab el-Mandeb melalui kelompok Houthi di Yaman.
Tak hanya itu, Akibat terhentinya lalu lintas kapal komersial di jalur perdagangan yang menguasai seperlima pasokan minyak dan gas dunia tersebut, harga minyak mentah Brent melonjak dan ditutup pada level tertinggi dalam satu bulan terakhir, yakni US$84,95 per barel.
Eskalasi militer multi-kawasan ini, yang juga diperparah oleh memanasnya kembali front Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina, meningkatkan kecemasan pasar terhadap ancaman disrupsi pasokan energi jangka panjang.
Katalis Makro: Ilusi Penurunan Inflasi Juni dan Sikap Tegas Kevin Warsh
Dari sisi data domestik, rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat olehBureau of Labor Statistics(BLS) untuk periode Juni memang menunjukkan pendinginan yang signifikan.Inflasi tahunan (YoY) melandai ke angka3,5%, turun tajam dari 4,2% pada bulan Mei.
Perlu diketahui, Secara bulanan (MoM), AS bahkan mencatatkan deflasi sebesar-0,4%, yang merupakan penurunan bulanan terbesar sejak April 2020. Inflasi inti (Core CPI) juga membaik dengan turun ke level2,6%.
Namun, penurunan ini bisa jadi hanyalah “ilusi” yang bersifat sementara.Anjloknya angka inflasi di bulan Juni sangat ditopang oleh penurunan tajam pada indeks energi akibat sempat berlakunya gencatan senjata AS-Iran.
Dengan runtuhnya gencatan senjata saat ini dan kembalinya blokade di Selat Hormuz, harga minyak mentah dipastikan kembali melonjak dan berisiko membalikkan keadaan pada rilis data inflasi bulan-bulan berikutnya.
Hal ini sejalan dengan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam testimoninya di Kongres. Warsh menegaskan bahwa faktor eksternal seperti konflik geopolitik dapat memengaruhi harga, dan The Fed bertugas memastikan lonjakan harga tersebut tidak berubah menjadi inflasi berkepanjangan.
Baca Juga:




