Messi Dijuluki “Princess FIFA” usai Argentina Lolos Final Piala Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia -Argentina melangkah mantap menuju babak final Piala Dunia usai mengalahkan Inggris dengan skor 2-1. Meski demikian, keberhasilan Argentina ini diwarnai sejumlah kontroversi.
Lionel Messi, kapten La Albiceleste, menjadi subjek teori konspirasi dari beberapa pengamat Piala Dunia yang menuduh FIFA menjadikan dia dan tim Argentina “anak emas.”
Di media sosial bertebaran meme Messi yang didandani seperti princess. Meme lain menyindir “carilah pria yang memperlakukanku seperti FIFA memperlakukan Messi.”
Para kritikus menyebut Messi sudah menjadi “princess FIFA” sejak Piala Dunia 2022, tetapi tuduhan favoritisme semakin menguat tahun ini setelah Argentina memenangkan pertandingan sengit melawan Mesir dengan skor 3-2 di menit-menit terakhir pertandingan. Pelatih Mesir Hossam Hassan menyebut pertandingan itu tidak adil. Dia juga merasa timnya “dicurangi” setelah wasit membatalkan gol Mesir karena pelanggaran dan menolak menyelidiki potensi pelanggaran yang dilakukan Argentina.
Diketahui bahwa, “Mungkin mereka ingin mempertahankan juara dunia di kompetisi ini. Mungkin mereka ingin Messi tetap bertahan,” kata Hassan kepada beIN Sports.
Sebagian menuding bahwa FIFA harus mempertahankan Messi di Piala Dunia agar penonton tetap ramai, setelah kegagalan Portugal yang membuat Ronaldo harus angkat kaki dari turnamen tersebut.
Lionel Scaloni, manajer tim nasional Argentina, pekan lalu membantah klaim bahwa FIFA menunjukkan favoritisme terhadap Messi dan Argentina.
“Sejujurnya, orang-orang telah menyampaikan hal-hal seperti itu tentang Argentina sejak lama,” kata Scaloni. Tetapi tidak ada favoritisme sama sekali.” “Media sosial memperbesar segalanya. Di situlah perdebatan dimulai.
Sementara itu, Pierluigi Collina, kepala wasit FIFA, juga membantah klaim favoritisme dalam pertandingan Argentina-Mesir, dengan mengatakan “diskusi konstruktif tentang sebuah keputusan akan selalu menjadi bagian dari sepak bola, tetapi tuduhan yang tidak berdasar tidak memiliki tempat dalam olahraga kita.”
Perlu dicatat, FIFA dan Infantino sendiri sejak lama dituduh terlibat dalam praktek korupsi dan kecurangan. Masih dalam kasus Piala Dunia 2026, para kritikus mengecam Infantino lantaran kedekatannya dengan Presiden Donald Trump, sebab Amerika Serikat adalah salah satu negara tuan rumah Piala Dunia tahun ini. Kontroversi terutama muncul setelah Trump menelepon Infantino sebelum FIFA mencabut skorsing kartu merah striker AS Folarin Balogun.
Baca Juga:




