16 Juli 2026 Stories worth reading. Perspectives worth sharing.
BREAKING
Misteri Aneh Argentina: Krisis Ekonomi Berat, Mudah Juara Piala Dunia?
Finance & Uang

Misteri Aneh Argentina: Krisis Ekonomi Berat, Mudah Juara Piala Dunia?

admin Juli 16, 2026 3 min read

Jakarta, CNBC Indonesia- Argentina kembali membuka peluang mengangkat trofi Piala Dunia. Tim Tango melaju ke final Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Inggris 2-1 dan akan menghadapi Spanyol pada Minggu (19/7/2026). Jika menang, Argentina akan mengoleksi gelar keempat sekaligus menjadi juar piala dunia dalam dua kali beruntun.

Di tengah keberhasilan tersebut, ada satu hal yang menarik guna di dalami dalam perjalanan Argentina. Tiga gelar sebelumnya, yakni pada 1978, 1986, dan 2022, diraih ketika perekonomian negara itu sedang menghadapi masalah berat.

Generasinya memang berbeda. Ada Mario Kempes pada 1978, Diego Maradona pada 1986, serta Lionel Messi pada 2022. Namun, ketiganya sama-sama membawa Argentina menjadi juara saat masyarakat di negaranya sedang berhadapan dengan inflasi tingg serta tumpukan utang pemerintah.

Sepak bola kemudian menjadi pelarian sejenak dari persoalan ekonomi. Jutaan orang turun ke jalan untuk merayakan kemenangan, tetapi pesta tersebut tidak serta-merta menyelesaikan masalah yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun.

Diketahui bahwa, Argentina meraih gelar Piala Dunia pertamanya pada 1978. Ketika itu, mereka menjadi tuan rumah dan mengalahkan Belanda 3-1 pada pertandingan final.

Mario Kempes menjadi bintang utama dengan mencetak dua gol. Argentina akhirnya mengangkat trofi di Estadio Monumental, Buenos Aires, di hadapan pendukungnya sendiri.

Namun, kondisi di luar stadion sangat jauh berbeda. Argentina saat itu berada di bawah pemerintahan junta militer yang dipimpin Jorge Rafael Videla. Kudeta militer terjadi dua tahun sebelumnya dan membawa negara tersebut masuk ke periode kekerasan politik yang dikenal sebagai Dirty War.

Masalah ekonomi juga sedang berat. Pada saat yang sama, laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mengalami kontraksi sebesar 4,5%, berbalik dari pertumbuhan 6,9% pada 1977. Inflasi rata-rata Argentina pada 1978 mencapai sekitar 176%.

Sementara itu, Harga barang melonjak cepat, daya beli masyarakat tergerus, sementara kegiatan ekonomi mengalami penurunan.

Pemerintah saat itu menjalankan kebijakan liberalisasi keuangan, membuka akses pinjaman luar negeri, dan melonggarkan impor. Nilai peso juga dijaga terlalu kuat dibandingkan kondisi ekonominya.




Kebijakan tersebut sempat membuat barang impor dan pinjaman luar negeri terlihat murah.

Namun, industri dalam negeri justru kesulitan bersaing, sementara uang lebih banyak mengalir ke kegiatan keuangan jangka pendek daripada investasi produktif.

Tak hanya itu, Utang luar negeri Argentina naik dari US$7,9 miliar pada 1975 menjadi US$12,5 miliar pada 1978. Utang sektor publik dalam periode yang sama bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat, dari US$4 miliar menjadi US$8,4 miliar.

Delapan tahun kemudian, Argentina kembali menjadi juara. Kali ini Piala Dunia digelar di Meksiko dan nama Diego Maradona muncul menjadi bintang.

Maradona mencetak dua gol terkenal saat melawan Inggris di perempat final, termasuk gol Tangan Tuhan dan aksi individu yang kemudian disebut sebagai salah satu gol terbaik dalam sejarah Piala Dunia.

Argentina selanjutnya mengalahkan Jerman Barat 3-2 pada pertandingan final dan membawa pulang trofi kedua.

Perlu diketahui, Namun di dalam negeri, pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Raul Alfonsin sedang berusaha keras untuk mengendalikan inflasi dan ikut krisis utang.

Setahun sebelum Piala Dunia, pemerintah memperkenalkan Austral Plan. Program tersebut melahirkan mata uang baru bernama austral, menggantikan peso. Pemerintah juga mendevaluasi mata uangnya, lalu membekukan nilai tukar, harga barang, dan upah.

Pada awalnya, program itu terlihat berhasil. Defisit anggaran juga sempat ditekan. Inflasi bulanan yang mencapai sekitar 30% pada Juni 1985 turun menjadi 3,1% pada Agustus.

Sayangnya, perbaikan itu tidak berlangsung lama. Ketidakseimbangan anggaran kembali muncul dan pemerintah Argentina masih kesulitan membiayai pengeluaran tanpa mencetak uang.

Baca Juga:

Leave a Comment