14 Juli 2026 Stories worth reading. Perspectives worth sharing.
BREAKING
Stephane Rolland dan Senandung Dalida yang Tak Pernah Pudar
Kuliner & Resep

Stephane Rolland dan Senandung Dalida yang Tak Pernah Pudar

admin Juli 14, 2026 4 min read

Stephane Rollandmasih menganggapcouturesebagai disiplin artistik yang berdiri sendiri. Mengambil inspirasi dari Dalida, koleksi terbarunya menjadi manifestasi paling jelas dari keyakinannya tentang couture.

Untuk koleksi musim dingin 2026/2027 ini, sangcouturiermembawa para tamu ke Olympia, gedung konser legendaris Paris yang menjadi saksi perjalanan Dalida, diva kelahiran Kairo yang sepanjang hidupnya menjembatani Timur dan Barat. Bagi Rolland, Dalida bukan sekadar sumber inspirasi visual, melainkan simbol perempuan yang mengubah kerentanan menjadi kekuatan.

“Saya tidak ingin merekonstruksi sebuah era, tetapi menemukan kembali sebuah perasaan,” tulisnya dalamshownoteyang diterimaCNNIndonesia.com.

“Perasaan seorang seniman yang berdiri sendiri di atas panggung dan memenuhi ruang dengan intensitas yang melampaui kata-kata”, lanjutnya.

Diketahui bahwa, Pilihan tersebut terasa sangat Stéphane Rolland. Alih-alih mengejar nostalgia secara harfiah, ia mengolah figur sejarah menjadi metafora mengenai keagungan, spiritualitas, dan keheningan, tiga unsur yang sejak lama menjadi bahasa visualnya. Selama dua dekade terakhir, ia hampir selalu menghindari tema-tema yang bersifat trend-driven.

Sebanyak 33 siluet berjalan layaknya sebuah resital musikal. Koleksi dibuka hampir seluruhnya dalam warna putih. Krep sutra, gazar, mousseline, organza, dan satin menciptakan volume yang nyaris tak berbobot.

Rolland menggambarkannya sebagai ‘halaman kosong yang masih terbuka’. Tempat gaun dan mantel memastikan pemakainya menjadi pusat perhatian, bukan hanya karena ukurannya, namun juga teknik konstruksinya yang sangat baik.

Putih tersebut kemudian perlahan digantikan oleh merah Olympia, hitam pekat, dan kilau perak. Seperti lagu-lagu Dalida, emosi dibangun secara bertahap tanpa pernah kehilangan kendali.

Sementara itu, “Intensitasnya bertumbuh tanpa pernah kehilangan kelembutannya,” tulis Rolland mengenai struktur koleksinya.

Secara teknis, koleksi ini hampir seperti katalog berbagai teknik yang telah menjadi identitas rumah mode ini. Gazar dibentuk menjadi siluet trapeze monumental. Organza seakan-akan ‘dipahat’ menjadi spiral dan gelombang. Makramé satin, plissé, bulu burung unta, hingga bordir batu kristal, mutiara, porselen, oniks, dan berlian digunakan sebagai aksen yang mengikuti arsitektur busana kreasinya.




Di sini, yang paling menarik justru bukan tekniknya, melainkan disiplin estetikanya. Hampir semua orang dapat mengenali gaun Stéphane Rolland dari kejauhan tanpa perlu melihat labelnya. Bahu tegas, garis vertikal yang memanjangkan tubuh, cape dramatis, volume arsitektural, serta proporsi yang monumental tetap menjadi fondasi koleksi ini.

Dalam industri yang sering menganggap perubahan sebagai sinonim kemajuan, Rolland justru membuktikan bahwa pengulangan dapat menjadi sebuah kekuatan. Ia tidak sedang mengulang ide lama karena kehabisan gagasan, melainkan menyempurnakan sebuah bahasa desain yang telah matang. Sama seperti Giorgio Armani atau Azzedine Alaïa pada masanya, konsistensinya menjadi aset dan identitas.

Tak hanya itu, Itulah pula alasan mengapa rumah mode ini terus bertahan ketika begitu banyak label couture independen menghilang. Stéphane Rolland tidak bergantung pada tas tangan, parfum blockbuster, atau lini komersial berskala besar.

Bisnisnya tetap berputar karena punya basis klien couture yang sangat loyal, yakni perempuan-perempuan yang datang bukan untuk membeli tren, melainkan membeli kepastian. Mereka mengetahui dengan tepat apa yang rencananya mereka dapatkan: siluet yang memuliakan tubuh, kemewahan yang tidak vulgar, serta pengerjaan tangan yang nyaris tanpa cela.

Di balik stabilitas tersebut terdapat sesuatu yang jarang dibicarakan dalam industri mode:atelier.

Haute couturesesungguhnya bukan hanya tentang seorang desainer, tetapi tentang parapremière d’atelier, pemotong pola, pembordir, hingga penjahit yang menghabiskan puluhan tahun menguasai keahlian yang hampir mustahil digantikan mesin. Salah satu kekuatan Stéphane Rolland adalah keberhasilannya mempertahankan tim tersebut selama bertahun-tahun.

Perlu diketahui, Akibatnya, setiap musim tidak terasa seperti sebuah eksperimen baru, melainkan evolusi alami dari pengetahuan kolektif yang terus diwariskan.

Kepercayaan terhadapatelierinilah yang membuat konstruksi khas Rolland tetap terlihat presisi. Gazar berdiri kokoh tanpa kehilangan kelembutan. Cape tidak pernah terasa berat meskipun monumental. Bordir menyatu dengan struktur busana, dan bukan sekadar ditempelkan di atas permukaan.

Rolland sendiri memahami hubungan emosional antara perempuan dancouture.

“Dalida memahami secara naluriah kekuatan sebuah pakaian, bukan sebagai simbol status, tetapi sebagai perpanjangan emosi. Itulah yang tetap menjadi inti pekerjaan saya: menciptakan busana yang mengungkapkan pribadi seseorang, bukan menutupinya.”

Baca Juga:

Leave a Comment