15 Juli 2026 Stories worth reading. Perspectives worth sharing.
BREAKING
Psikolog Ungkap Kesalahan Orang Tua yang Bikin Anak Lemah Mental
Finance & Uang

Psikolog Ungkap Kesalahan Orang Tua yang Bikin Anak Lemah Mental

admin Juli 15, 2026 3 min read

Jakarta, CNBC Indonesia- Banyak orang tua ingin membantu anak agar terhindar dari kesulitan. Namun, terlalu sering turun tangan justru dapat menghambat perkembangan mental anak.Psikiater sekaligus penulis Daniel Amen mengingatkan, salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan orang tua adalah melakukan terlalu banyak hal untuk anak. Ia bilang, kebiasaan ini dapat membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang tangguh dalam menghadapi tantangan hidup.

“Orang tua sering kali melakukan terlalu banyak hal untuk anak-anak mereka, sehingga menghasilkan anak yang lemah secara mental,” ujar Amen dalam podcastBuilt Different, dikutip CNBC Make It.Amen mencontohkan beberapa kebiasaan yang terlihat sepele, seperti mengerjakan tugas sekolah anak agar nilainya bagus atau selalu memenuhi keinginannya hanya untuk menghentikan tantrum. Ia bilang, tindakan tersebut justru mengurangi kesempatan anak belajar bertanggung jawab, menyelesaikan masalah, dan membangun kemandirian.Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki ketahanan (resilience) atau ketangguhan mental yang baik cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih bahagia dan sukses.

Amen mengaku menerapkan prinsip tersebut kepada anaknya. Ketika sang anak lupa membawa pekerjaan rumah ke sekolah, ia tidak mengantarkannya. Begitu pula saat anak lupa membawa jaket pada hari yang dingin meski sudah diingatkan sebelumnya.”Saat anak berkata, ‘Aku bosan’, jangan langsung mencarikan hiburan. Katakan saja, ‘Kira-kira apa yang akan kamu lakukan untuk mengatasinya?'” ujarnya.Ia bahkan mengingatkan, terlalu sering membantu anak justru dapat berdampak negatif terhadap rasa percaya diri mereka.”Jika Anda melakukan terlalu banyak hal untuk anak, Anda meningkatkan harga diri Anda dengan cara mencuri harga diri mereka. Ketangguhan mental terbentuk ketika seseorang belajar menyelesaikan masalahnya sendiri,” kata Amen.

Meski demikian, membangun ketangguhan mental bukan berarti orang tua harus menerapkan pola asuh yang keras atau penuh hukuman. Psikolog anak dari Barnard College, Tovah Klein, mengatakan, orang tua tetap perlu menunjukkan empati dan memberikan dukungan ketika anak menghadapi kegagalan atau kesulitan.Ia menekankan, melindungi anak dari setiap rasa kecewa justru tidak membantu mereka menjadi pribadi yang tangguh.”Saya melihatnya sebagai pendekatan yang lebih penuh empati dan tetap terhubung. Katakan, ‘Ini mungkin sulit, tapi aku akan ada di sini setelah kamu selesai melaluinya’,” ujar Klein kepada CNBC Make It.Dengan cara tersebut, kata ia, anak memahami bahwa orang tuanya tetap mendukung mereka, terlepas dari hasil yang diperoleh.”Aku percaya kamu bisa melewati tantangan ini. Aku akan tetap ada, apa pun hasilnya, baik kamu menang, kalah, atau berada di posisi tengah,” katanya.Selain memberi ruang bagi anak untuk memecahkan masalahnya sendiri, Amen juga menyarankan orang tua melibatkan anak dalam berbagai tanggung jawab sehari-hari. Sejalan dengan itu, American Psychological Association (APA) menyebutkan, anak yang terbiasa membantu orang lain, mulai dari mengerjakan pekerjaan rumah hingga membantu teman di sekolah, cenderung memiliki rasa tanggung jawab dan percaya diri yang lebih baik saat menghadapi tantangan hidup.”Biarkan mereka mulai mencari solusi atas masalah mereka sendiri, daripada orang tua terlalu banyak ikut campur,” kata Amen.

Baca Juga:

Leave a Comment