15 Juli 2026 Stories worth reading. Perspectives worth sharing.
BREAKING
Sering Mendengkur? Dokter Sebut Risiko Stroke Naik hingga 3 Kali Lipat
Kuliner & Resep

Sering Mendengkur? Dokter Sebut Risiko Stroke Naik hingga 3 Kali Lipat

admin Juli 15, 2026 3 min read

Mendengkur kerap dianggap sekadar kebiasaantiduryang mengganggu pasangan. Padahal, jika terjadi terus-menerus dan disertai hentinapassaat tidur, kondisi ini bisa menjadi tanda gangguankesehatanyang serius.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sekaligus peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. Rony Marethianto Santoso, SpJP, mengingatkan bahwa kebiasaan mendengkur akibat obstructive sleep apnea (OSA) dapat meningkatkan risiko stroke secara signifikan.

“Snoring itu namanya sleep apnea, obstructive sleep apnea. Risiko stroke pada penderita kondisi ini tiga kali lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak mengalaminya,” kata Rony dalam Media Gathering bersama Primaya Hospital Tangerang di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Selasa (15/7).

Rony menjelaskan, tidak semua orang yang mendengkur mengalami obstructive sleep apnea. Namun, dengkuran yang keras, terjadi hampir setiap malam, dan disertai jeda napas saat tidur merupakan tanda yang perlu diwaspadai.

Diketahui bahwa, Salah satu ciri yang paling mudah dikenali adalah adanya henti napas sesaat saat tidur, kemudian penderita tampak tersentak untuk kembali bernapas.

“Kalau kita melihat pasangan yang berat badannya berlebih, tidurnya seperti berhenti napas lalu tersentak lagi, itu bisa menjadi tanda sleep apnea,” ujarnya.

Selain itu, penderita OSA serta kerap mengalami daytime sleepiness, yakni rasa kantuk berlebihan pada siang hari meski merasa telah tidur cukup.

“Kalau setiap siang mengantuk terus, padahal malam merasa tidurnya biasa saja, berarti ada sesuatu yang terjadi saat Anda sedang tidur,” jelasnya.




Sementara itu, Obstructive sleep apnea terjadi ketika saluran napas berulang kali menyempit atau tertutup selama tidur. Kondisi ini menyebabkan pasokan oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak, berkurang secara berulang.

Akibatnya, tubuh mengalami stres berulang setiap malam. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu peningkatan tekanan darah, merusak pembuluh darah, serta meningkatkan risiko terbentuknya sumbatan.

Kombinasi faktor-faktor inilah yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko stroke maupun penyakit jantung. Menurut Rony, kondisi ini lebih sering ditemukan pada orang dengan berat badan berlebih.

Temuan tersebut juga didukung sejumlah penelitian. Studi yang dipublikasikan dalamFrontiers in Neurologymenunjukkan bahwa orang yang mendengkur memiliki risiko stroke 46 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mendengkur.

Tak hanya itu, Sementara itu, penelitian dalamInternational Journal of Cardiologymenemukan bahwa habitual snoring, atau kebiasaan mendengkur lebih dari tiga malam dalam sepekan, berkaitan dengan peningkatan risiko stroke yang bermakna dibandingkan orang yang tidak mendengkur.

Rony menegaskan, mendengkur bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi risiko stroke. Risiko akan semakin tinggi jika disertai hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, maupun riwayat penyakit kardiovaskular dalam keluarga.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat, terutama yang berusia di atas 40 tahun atau memiliki faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, untuk rutin menjalani pemeriksaan kesehatan.

Perlu diketahui, Bila mendengkur disertai henti napas saat tidur, rasa kantuk berlebihan pada siang hari, atau pasangan sering melihat napas terhenti saat tidur, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Diagnosis dan penanganan sejak dini dapat membantu menurunkan risiko komplikasi serius, termasuk stroke.

Baca Juga:

Leave a Comment