Cerita dari SDN Hanya Satu Murid Baru di Kampung KB Ciamis
Desa Salakaria di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, dikenal sebagai Kampung Keluarga Berencana (KB). Namun,sekolah dasar negeri (SDN) di kampung itu hanya menerima satu murid baru di awal tahun ajaran 2026/2027 ini.
Akibat cuma satu murid baru di kelas 1, upacara atau kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pun tak digelar di halaman SDN 2 Salakaria pekan ini. SD itu berada di Dusun Sukarasa, Salakaria, Kecamatan Sukadana yang berjarak sekitar 14 kilometer dari kantor pusat Pemkab Ciamis.
Guru kelas 1 di SD itu, Maya Nurhidayah mengatakan sebetulnya pihak sekolah sudah menyediakan berbagai kebutuhan untuk menyambut murid barunya. Namun hingga dimulainya tahun ajaran, pendaftar sekolah di SD tersebut cukup minim.
Walaupun demikian, dia menegaskan itu tak menyurutkan dirinya dan tenaga pendidik lain untuk mengajar di sekolah tersebut.
Diketahui bahwa, “Awalnya yang mendaftar ada dua anak, tetapi satu lagi pindah ke Bogor. Saya tetap semangat menyambut murid baru meski hanya satu orang,” ungkapnya, Rabu (15/7) dikutip daridetikJabar.
Maya adalah guru honorer, dan tahun ini dia menjadi Wali Kelas 1. Sebelumnya dia adalah Wali Kelas 2.
Sementara itu, Kepala SD Negeri 2 Salakaria, Deni Purnama, menyebut total siswa di sekolahnya saat ini hanya 32 orang. Rinciannya: kelas 1 satu siswa, kelas 2 tujuh siswa, kelas 3 sembilan siswa, kelas 4 lima siswa, kelas 5 lima siswa, dan kelas 6 enam siswa.
Deni menjelaskan, minimnya jumlah peserta didik dipengaruhi kondisi lingkungan sekitar yang memang memiliki jumlah anak usia sekolah relatif sedikit.
Sementara itu, “Wilayah kami dikenal sebagai kampung KB pada akhirnya jumlah anak usia sekolah tidak banyak. Biasanya setiap tahun kami menerima sekitar lima siswa, tetapi tahun ini hanya satu. Mudah-mudahan tahun depan jumlahnya kembali meningkat,” jelasnya.
Meski demikian, Demi memastikan kualitas layanan pendidikan tetap menjadi prioritas.
Tak cuma itu, dia menegaskan para guru turut tetap mengajar secara maksimal dengan dukungan fasilitas belajar yang memadai. Salah satunya penggunaanInteractive Flat Panel(IFP) sebagai media pembelajaran di kelas.
“Jumlah murid memang sedikit, tetapi kami terus berupaya memberikan pendidikan terbaik. Alhamdulillah sekolah ini juga pernah meraih prestasi tingkat Provinsi Jawa Barat di bidang keagamaan, serta juara tingkat kabupaten untuk cabang tari dan Pendidikan Agama Islam,” jelasnya.
Tak hanya itu, Deni mengakui bahwa mengelola sekolah dengan jumlah siswa minim bukanlah perkara mudah. Namun, kekompakan para guru menjadi kekuatan utama agar proses belajar-mengajar tetap berjalan dengan baik.
“Semua guru saling mendukung. Kalau ada kekurangan, kami berusaha menutupinya bersama-sama demi memberikan pelayanan terbaik kepada anak-anak,” tuturnya.
Soal kondisi demografis yang memengaruhi minimnya murid masuk di tahun ajaran baru itu pun diamini Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis.
Kepala Dinas Pendidikan, Erwan Darmawan, menegaskan bahwa fenomena ini terjadi bukan karena rendahnya kualitas pendidikan di sekolah tersebut, melainkan lebih disebabkan oleh faktor demografi penduduk di lingkungan sekitar.
Perlu diketahui, “Setelah kami evaluasi, ternyata bukan sebab sekolah ini tidak berkualitas. Banyak penduduk yang usianya sudah lanjut dan kawasan ini ikut merupakan Kampung KB, sehingga jumlah kelahiran tidak banyak,” tutur Erwan. Memang jumlah anak usia sekolah di lingkungan sini sudah sedikit.
Meski hanya menerima satu siswa baru, Erwan menilai semangat para guru di SDN 2 Salakaria tetap tinggi. Bahkan, sekolah tersebut pernah menorehkan prestasi hingga tingkat Provinsi Jawa Barat.
Erwan memastikan tidak ada perbedaan pelayanan antara sekolah yang memiliki banyak siswa dengan sekolah yang jumlah muridnya minim.
“Sedikit atau banyak siswanya, pelayanan pendidikan harus tetap sama. Justru dengan jumlah siswa yang sedikit, guru bisa menyajikan perhatian yang lebih maksimal kepada peserta didik,” ujarnya.
Baca Juga:




