15 Juli 2026 Stories worth reading. Perspectives worth sharing.
BREAKING
3 Pola Asuh yang Terlihat Sayang, tapi Bikin Anak Sulit Mandiri
Kuliner & Resep

3 Pola Asuh yang Terlihat Sayang, tapi Bikin Anak Sulit Mandiri

admin Juli 14, 2026 3 min read

Setiaporang tuatentu ingin menyajikan yang terbaik bagi anaknya. Demi melindungi, banyakayahdan ibu rela melakukan apa saja, mulai dari membantu menyelesaikan tugas, mengingatkan setiap hal kecil, hingga menghindarkananakdari rasa kecewa.

Namun, niat baik ternyata tidak selalu menghasilkan dampak yang baik. Tanpa disadari, sikap yang terlalu melindungi atau terlalu mengatur justru bisa menghambat anak belajar mandiri.

Pelatih pengasuhan anak sekaligus ibu dari empat anak, Camilla McGill, mengatakan hampir semua orang tua pernah melakukan kesalahan dalam mengasuh. Menurutnya, hal itu bukan karena mereka tidak menyayangi anak, melainkan karena rasa cinta yang begitu besar dan keinginan agar anak selalu baik-baik saja.

Berikut tiga kesalahan pola asuh yang paling sering dilakukan orang tua dan cara mengubahnya melansirMy Parenting Solutions:

Diketahui bahwa, Banyak orang tua merasa harus mengendalikan hampir semua hal yang dilakukan anak. Mulai dari cara berpakaian, mengerjakan pekerjaan rumah, hingga bermain, semuanya ingin diatur agar hasilnya sesuai harapan.

Di balik sikap tersebut, biasanya tersimpan rasa takut. Orang tua khawatir anak gagal di sekolah, terluka, dikucilkan teman, atau bahkan dinilai buruk oleh orang lain.

Sayangnya, semakin besar kontrol yang diberikan, semakin besar pula kemungkinan anak melawan. Sebagian anak akan membangkang, berdebat, atau menolak bekerja sama. Sebagian lainnya memang menurut, tetapi perlahan kehilangan kepercayaan diri karena terbiasa bergantung pada keputusan orang tua.

Alih-alih menjadi ‘bos’, orang tua sebaiknya berperan sebagai pembimbing. Misalnya, daripada memerintah, ‘Cepat pakai baju sekarang!’, cobalah bertanya, ‘Kamu mau ganti baju di tempat tidur atau di ruang ganti?’ Berikan anak pilihan yang masih berada dalam batas yang aman.

Sementara itu, Cara sederhana ini membuat anak merasa dihargai sekaligus belajar mengambil keputusan.




Mengasuh anak memang melelahkan. Padahal, respons yang dipenuhi amarah justru membuat situasi semakin memanas. Anak yang sedang kewalahan menggunakan emosinya membutuhkan sosok dewasa yang mampu tetap tenang, bukan ikut bereaksi. Saat anak membantah, merengek, atau tidak mau mendengarkan, emosi orang tua sering kali ikut meledak.

Sebagai contoh, ketika anak melempar mainan karena kesal, banyak orang tua langsung membentak atau menghukum. Ambil napas, lalu katakan serta tenang, ‘Kamu sedang marah, ya? Sebaliknya, cobalah berhenti sejenak sebelum bereaksi. Nanti setelah tenang, kita rapikan mainannya bersama.’

Pendekatan seperti ini membantu anak belajar mengenali dan mengelola emosinya. Anak juga memahami bahwa setiap perilaku memiliki konsekuensi tanpa harus merasa dipermalukan.

Tak hanya itu, Dalam rutinitas yang padat, orang tua sering menginginkan hasil yang instan. Anak harus segera memakai sepatu, membereskan mainan, atau masuk ke mobil tanpa banyak protes. Agar cepat menurut, sebagian orang tua menggunakan ancaman atau hukuman.

Padahal, kepatuhan sesaat belum tentu membuat anak belajar bertanggung jawab. Anak mungkin akhirnya membereskan, tetapi melakukannya karena takut, bukan karena memahami pentingnya menjaga kerapian. Misalnya, saat anak menolak merapikan mainan, orang tua mengancam bakal membuang semua mainannya.

Begitu pula ketika anak menumpahkan minuman. Memarahi anak di depan orang lain mungkin membuatnya merasa malu, tetapi tidak mengajarkan cara menghadapi kesalahan dengan tenang.

Daripada berfokus pada kepatuhan instan, cobalah menjadikan setiap situasi sebagai kesempatan belajar. Yuk, kita cari cara supaya nanti lebih mudah membereskan mainan.’ Misalnya, katakan, ‘Aku tahu berhenti bermain itu sulit.

Perlu diketahui, Pendekatan ini mungkin membutuhkan waktu lebih lama. Namun, dalam jangka panjang, anak akan belajar bertanggung jawab, mampu memecahkan masalah, dan lebih mandiri.

Baca Juga:

Leave a Comment