Modus Mafia Judol, Petani Dibayar Rp 100 Ribu Buka Rekening Ilegal
Jakarta, CNBC Indonesia -Salah satu modus yang digunakan pelaku kejahatan siber, termasuk judi online, untuk menyediakan rekening penampung transaksi adalah memanfaatkan masyarakat dengan imbalan uang agar bersedia membuka rekening bank.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, mengatakan masyarakat, terutama dari kalangan kurang mampu, diminta membuat rekening baru dengan bayaran sekitar Rp100 ribu hingga Rp500 ribu. Rekening tersebut kemudian dijadikan sebagai rekening penampung untuk aktivitas ilegal.
“Bagaimana mudahnya kemudian membuat penampungan rekening dengan meminta kepada masyarakat yang kurang mampu dibayar Rp100.000-Rp500.000 untuk membuat rekening-rekening penampungan,” kata Meutya dalam acara OJK Banking Forum di Menara Radius Prawiro, Jakarta Pusat, Selasa (14/6/2026).
Menurut dia, banyak pihak yang dimanfaatkan dalam modus tersebut, mulai dari petani hingga ibu rumah tangga. Mereka diduga tidak sepenuhnya memahami bahwa rekening yang dibuat akan digunakan untuk transaksi yang melanggar hukum.
Diketahui bahwa, Meutya menilai praktik tersebut seharusnya bisa dicegah lebih dini apabila proses know your customer (KYC) di perbankan diperkuat hingga ke daerah dan gerai-gerai layanan bank.
Ia menjelaskan, rekening yang dimiliki nasabah dalam jumlah banyak tetapi memiliki saldo kecil seharusnya dapat menjadi salah satu indikator untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
“Sebetulnya kalau KYC dikuatkan hingga ke daerah atau gerai-gerai perbankan, ini bisa dideteksi lebih awal. Terutama kalau rekeningnya jumlahnya banyak, tetapi angka saldonya tidak banyak, itu juga pasti dapat dideteksi lebih awal kalau kita semua hati-hati,” ujarnya.
Karena itu, Meutya berharap langkah pemutusan akses terhadap aktivitas ilegal di ruang digital serta dibarengi dengan pemblokiran rekening-rekening yang terbukti bermasalah.
Sementara itu, Menurutnya, langkah yang lebih ideal adalah mendeteksi rekening penampung sejak awal sehingga tidak perlu menunggu banyak laporan dari masyarakat.
“Kita meyakini kalau nanti pemutusan akses ini didukung juga dengan pemutusan terhadap rekening-rekening yang memang bermasalah. Syukur-syukur lebih dideteksi, jadi tidak usah ada banyak pelaporan rekening bermasalah. Kalau dari awal ternak rekening bisa dihindari, bisa dikecilkan oleh tim Bapak-Ibu di seluruh penjuru Indonesia, ini yang memang sangat krusial,” pungkasnya.
Baca Juga:




