14 Juli 2026 Stories worth reading. Perspectives worth sharing.
BREAKING
Smelter Manyar Freeport, Wujud Nyata Hilirisasi Tembaga di Indonesia
Ekonomi

Smelter Manyar Freeport, Wujud Nyata Hilirisasi Tembaga di Indonesia

admin Juli 14, 2026 4 min read

PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui kehadiran Smelter Manyar di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, membuktikan perwujudan program hilirisasi mineral nasional benar-benar telah bergulir dan terus berkembang.

Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas menyampaikan bahwa persiapan operasional Smelter Manyar berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Hal itu ditegaskan Tony usai penandatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah Kabupaten Mimika dan PTFI di Jakarta pada Juni lalu.

“Kira-kira bulan September akan produksi. Agustus sudah mulai olah konsentrat lagi,” kata Tony.

Ia menjelaskan, peningkatan pasokan konsentrat dari tambang Grasberg Block Cave (GBC) akan menjadi penopang utama bagi smelter untuk terus mendorong kapasitas produksi. Konsentrat tembaga dari tambang GBC itu akan mulai dialokasikan secara bertahap ke Smelter Manyar mulai September 2026, seiring peningkatan produksi yang ditargetkan mencapai sekitar 65 persen pada paruh kedua tahun ini.

Diketahui bahwa, Peningkatan tersebut direncanakan berlanjut hingga mencapai 75 persen pada semester I 2027, dan menyentuh kapasitas penuh 100 persen pada semester II 2027.

Smelter Manyar dibangun dengan nilai investasi mencapai sekitar US$3,7 miliar dolar AS atau setara Rp58 triliun, menjadikannya salah satu proyek hilirisasi mineral terbesar yang pernah digarap swasta di Indonesia. Fasilitas ini memiliki kapasitas pengolahan hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun, dilengkapi fasilitas Precious Metal Refinery berkapasitas 6.000 ton per tahun yang mengekstraksi emas, perak, dan mineral ikutan lainnya.

JIIPE menyatakan, smelter ini dirancang dengan teknologi jalur tunggal (single line) berkapasitas terbesar di dunia.

Kehadiran smelter juga membuka lapangan kerja yang luas. Pada peninjauan langsung kemajuan pembangunan smelter di Gresik, Airlangga menyebut proyek ini sebagai wujud investasi besar yang patut diapresiasi. Selama masa konstruksi, proyek ini menyerap tenaga kerja hingga 11.000 orang, yang mendapat apresiasi dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.




Sementara itu, “Pemerintah mengapresiasi kepada PTFI karena progress sejak di-groundbreaking oleh Bapak Presiden sudah mencapai 51,7 persen,” kata Airlangga, dilansir dari situs Kemenko Perekonomian.

Sebagai wujud dukungan, pemerintah menggulirkan sejumlah kebijakan agar proyek Smelter Manyar berjalan lancar, mulai dari penetapan kawasan pabean khusus di area PTFI hingga penerbitan fasilitas pembebasan bea masuk atas impor barang modal untuk pembangunan fasilitas. Dukungan ini dinilai mencerminkan posisi strategis Smelter Manyar dalam peta besar kebijakan hilirisasi mineral nasional.

Bagi PTFI sendiri, Smelter Manyar merupakan bagian penting dari strategi bisnis jangka panjang Freeport-McMoRan secara global. Adkersonm dan Presiden & CEO Freeport-McMoRan, Kathleen Quirk ke Gresik, beberapa waktu lalu. Hal itu tercermin dari kunjungan Chairman of the Board Freeport-McMoRan, Richard C.

Saat itu, keduanya memastikan kelancaran operasional smelter, yang menegaskan perhatian induk perusahaan di Amerika Serikat terhadap keberlangsungan proyek ini.

Tak hanya itu, Tony Wenas menyatakan, langkah PTFI memperkuat operasional smelter merupakan bagian dari visi besar perusahaan untuk mendukung kemandirian industri dalam negeri. Komitmen PTFI ini pun sejalan dengan visi besar menuju Indonesia Emas 2045, di mana penguatan industri pengolahan mineral dalam negeri menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi.

“PTFI berkomitmen bagi terus berkontribusi dan memberikan nilai tambah bagi bangsa dan negara,” kata Tony.

Pengoperasian Smelter Manyar secara penuh diproyeksikan memberi dampak berganda bagi ekonomi lokal. Selain menyerap tenaga kerja langsung, fasilitas ini turut mendorong pertumbuhan industri pendukung dan rantai logistik di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik. Peningkatan kapasitas pengolahan tembaga di dalam negeri ikut membantu mengurangi ketergantungan pada ekspor konsentrat mentah, termasuk lewat peningkatan nilai tambah produk tembaga nasional sebelum dipasarkan ke pasar global.

Dengan peta jalan peningkatan kapasitas yang jelas hingga 2027, Smelter Manyar diyakini berada di jalur yang tepat untuk menjadi salah satu pilar utama industri pengolahan tembaga Indonesia. Proyek ini membuktikan bahwa hilirisasi mineral yang dijalankan dengan investasi dan dukungan kebijakan yang konsisten, dapat memberi manfaat nyata, baik bagi perekonomian nasional maupun daerah.

Baca Juga:

Leave a Comment