15 Juli 2026 Stories worth reading. Perspectives worth sharing.
BREAKING
Benarkah Perca Penyebab Chery Tiggo Cross Terbakar? Ini Respons Pakar
Otomotif

Benarkah Perca Penyebab Chery Tiggo Cross Terbakar? Ini Respons Pakar

admin Juli 15, 2026 3 min read

Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengurai kemungkinan penyebabChery Tiggo CrossChery Super Hybrid (CSH) terbakar yang diklaim perusahaan diakibatkan oleh kain perca.

Seperti diketahui, dua Chery Tiggo Cross CSH mengalami kebakaran, pertama pada akhir Maret di tol Jakarta, dan kedua terjadi di Bandung pada Juli 2026.

Demi kasus pertama, perusahaan menjelaskan hasil investigasinya tidak ada komponen mobil yang bermasalah hingga memicu kebakaran.

Chery menduga masih ada kemungkinan adanya faktor lain dari penyebab kebakaran, seperti keterlibatan material eksternal atau benda asing di luar komponen produk. Namun belum diumumkan material yang dimaksud.

Diketahui bahwa, Sedangkan di insiden Chery Tiggo Cross CSH kedua, ditegaskan oleh Chery, penyebab kebakaran bukan berasal dari komponen kendaraan, melainkan adanya “benda asing” yaitu kain perca yang tertinggal di exhaust manifold.

“Insiden ini dipicu oleh adanya faktor eksternal berupa kain perca yang tertinggal di dekat area lower arm dan berada dekat dengan exhaust manifold bersuhu sangat tinggi saat beroperasi,” tulis Chery dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (9/7).

“Hal tersebut memicu terjadinya percikan api yang menyebabkan kebakaran,” lanjut perusahaan.

Chery menyebut hasil investigasi tidak menemukan indikasi kegagalan pada komponen, suku cadang, maupun sistem kendaraan yang terlibat dalam insiden tersebut.

Sementara itu, Yannes menilai insiden kebakaran di Bandung pada 4 Juli 2026 yang disebabkan oleh kain perca pada area exhaust manifold memang masih dapat dijelaskan secara teknis.




Kata dia exhaust manifold tersebut bekerja pada temperatur sangat tinggi sehingga material yang mudah terbakar dapat mengalami pirolisis, lalu memicu kebakaran apabila kain perca menempel untuk waktu lama.

“Tetapi, karena insiden serupa terjadi pada model yang sama, termasuk pada unit yang masih berada dalam proses distribusi, penjelasan internal pabrikan saja sebaiknya belum menjadi akhir dari proses evaluasi tentunya ya,” kata Yannes saat dihubungi, Selasa (14/7).

Kata Yannes kasus ini justru mengindikasikan pentingnya memastikan secara objektif sebab kebakaran.

Tak hanya itu, “Apakah penyebabnya murni akibat human error pada proses perakitan, pre-delivery inspection, atau servis, atau terdapat faktor lain yang ikut berkontribusi, termasuk desain ruang mesin dan sistem heat shield terhadap kemungkinan masuknya material asing,” ungkapnya.

Yannes menambahkan diperlukan langkah investigasi lanjutan oleh regulator atau lembaga independen sesuai kewenangannya agar hasilnya memiliki kredibilitas yang lebih kuat.

“Tujuannya bukan guna mencari pihak yang bersalah, melainkan memastikan akar penyebab insiden dapat diidentifikasi secara menyeluruh sehingga dapat ditentukan langkah perbaikannya, baik berupa penyempurnaan SOP inspeksi, peningkatan quality control, evaluasi desain apabila memang diperlukan, maupun tindakan preventif lainnya,” kata dia.

Pada akhirnya, ia menekankan setiap insiden keselamatan harus menjadi momentum bagi seluruh pabrikan otomotif untuk memperkuat standar kualitas produk dan layanan purnajual.

Perlu diketahui, Harapannya, konsumen memperoleh jaminan bahwa kendaraan yang dipasarkan maupun diservis telah memenuhi standar keselamatan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga:

Leave a Comment