15 Juli 2026 Stories worth reading. Perspectives worth sharing.
BREAKING
Harga Minyak Masuk Zona Gelap, Dunia Dibuat Bingung
Finance & Uang

Harga Minyak Masuk Zona Gelap, Dunia Dibuat Bingung

admin Juli 15, 2026 4 min read

Jakarta, CNBC Indonesia-Pasar minyak global kembali masuk ke fase yang sulit diprediksi.

Sebelum konflik Amerika Serikat (AS)-Iran memanas lagi, pasar sebenarnya mulai percaya tekanan harga akan mereda pada paruh kedua tahun ini. Produksi diperkirakan meningkat, arus ekspor Teluk Persia kembali terbuka, sementara pasokan dunia perlahan bergerak menuju surplus. Skenario itu kini goyah.

Ketegangan yang kembali pecah sejak awal Juli mengubah variabel paling penting dalam pasar minyak, keamanan distribusi.

Selat Hormuz kembali menjadi titik perhatian. Jalur laut selebar sekitar 33 kilometer tersebut menjadi pintu keluar utama minyak dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar hingga Iran. Hampir seperempat perdagangan minyak dunia bergantung pada koridor ini. Gangguan kecil saja langsung memengaruhi harga karena pasar menghitung ulang risiko pasokan.

Diketahui bahwa, Harga minyak dunia kembali melesat pada perdagangan Selasa (14/7/2026).

Pada perdagangan Selasa (14/7/2026), harga minak brent melonjak 1,72% ke US$ 84,73 per barel sementara WTI menguat 1,5% ke US$ 79,34 per barel. Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya. Harga minyak brent dan WTI udah melesat 11% dalam dua hari terakhir.

Pada Rabu (15/7/2026) pukul 11.14 WIB, harga minyak brent menguat 1,2% ke US$ 85,74 per barel sedangkan WTI naik 0,9% ke US$ 80,06 per barel.

Kenaikan ini bukan dipicu berkurangnya produksi minyak secara langsung, melainkan meningkatnya premi risiko (risk premium). Pasar bersedia membayar lebih mahal karena ketidakpastian distribusi semakin besar. Dalam perdagangan komoditas, ancaman terhadap jalur pengiriman sering kali memiliki pengaruh yang sama besarnya dengan gangguan produksi.

Sementara itu, Kondisi di lapangan mulai menguatkan kekhawatiran tersebut. Data MarineTraffic mencatat hanya 57 kapal yang melintasi Selat Hormuz sepanjang Jumat hingga Minggu lalu.

Angka ini turun lebih dari separuh dibanding pekan sebelumnya. Sebelum perang pecah pada akhir Februari, rata-rata sekitar 130 kapal melewati jalur tersebut setiap hari.




Serangan terhadap dua kapal tanker di kawasan itu membuat perusahaan pelayaran kembali menaikkan kewaspadaan. Sebagian operator memilih menunda pelayaran, sementara kapal lain menunggu kepastian keamanan sebelum memasuki Teluk Persia. Waktu tunggu yang lebih panjang berarti pasokan minyak membutuhkan waktu lebih lama demi mencapai konsumen.

Padahal beberapa pekan sebelumnya kondisi justru bergerak ke arah sebaliknya. Melansir dariOil Market Report Juli 2026dari International Energy Agency (IEA) menjelaskan produksi minyak global sempat pulih cukup kuat pada Juni. Pasokan dunia naik 4,1 juta barel per hari menjadi 98,8 juta barel per hari setelah kapal tanker yang sebelumnya tertahan mulai meninggalkan Selat Hormuz.

Tak hanya itu, Ekspor minyak kawasan Teluk melonjak 6,5 juta barel per hari menjadi 16,1 juta barel per hari. Lonjakan tersebut sebagian berasal dari pelepasan minyak yang selama konflik disimpan di tangki darat maupun kapal penyimpanan terapung (floating storage). Artinya, pasar sempat memperoleh tambahan pasokan tanpa harus menunggu produksi baru.

Namun angka itu masih jauh dari kondisi normal. Produksi regional juga masih sekitar 11 juta barel per hari lebih rendah dibanding level pra-konflik. Menggunakan kata lain, kapasitas penuh belum pernah benar-benar kembali. Sebelum perang dimulai, ekspor kawasan Teluk rata-rata mencapai sekitar 24 juta barel per hari.

IEA juga mencatat pemulihan lebih banyak terjadi pada minyak mentah, bukan produk jadi. Kilang ekspor utama di Timur Tengah masih belum seluruhnya beroperasi. Di saat bersamaan, serangan terhadap infrastruktur kilang Rusia membuat pasokan solar dan bensin global tetap terbatas. Dampaknya terlihat pada margin pengolahan yang melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun pada awal Juli.

Di sisi permintaan, IEA memperkirakan konsumsi minyak dunia mulai pulih setelah mencapai titik terendah pada Mei 2026.

Perlu diketahui, Musim liburan musim panas di belahan bumi utara mendorong penggunaan bahan bakar transportasi. Permintaan yang sempat tertahan juga mulai dilepas ke pasar. Meski demikian, lembaga tersebut masih memperkirakan konsumsi minyak sepanjang 2026 turun sekitar 1 juta barel per hari dibanding tahun lalu.

Arah harga minyak saat ini tidak lagi ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan produksi. Faktor yang paling menentukan adalah seberapa lancar kapal tanker dapat melewati Selat Hormuz.

Selama jalur tersebut masih dibayangi konflik dan ancaman terhadap pelayaran komersial, asumsi pasar mengenai surplus pasokan rencananya terus berubah.

Proyeksi harga minyak dunia semakin sulit ditebak di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.

Baca Juga:

Leave a Comment