15 Juli 2026 Stories worth reading. Perspectives worth sharing.
BREAKING
Membangun Prestasi dari Papua: Ketika Pembinaan Atlet Mulai dari Akses
Ekonomi

Membangun Prestasi dari Papua: Ketika Pembinaan Atlet Mulai dari Akses

admin Juli 15, 2026 4 min read

Di banyak daerah terpencil Indonesia, bakat olahraga sering kali terhenti bukan sebab kurang kemauan, melainkan karena akses yang tak kunjung datang. Lapangan yang jauh, kompetisi yang jarang, dan biaya latihan yang tak terjangkau membuat banyak talenta muda tak sempat berkembang.

Di Papua, pendekatan tersebut mulai menunjukkan hasil. Pembinaan atlet tidak lagi hanya berfokus pada pencarian bibit berbakat, tetapi juga memperluas kesempatan bagi anak-anak muda untuk berkembang melalui ekosistem latihan yang lebih terstruktur.

Model ini menjadi salah satu upaya memperkecil kesenjangan akses pembinaan olahraga antara wilayah timur dan daerah lain di Indonesia.

Salah satu program yang berkembang adalah Papua Athletics Center (PAC), pusat pelatihan atletik hasil kolaborasi PB Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) dan PT Freeport Indonesia (PTFI). Program tersebut menggabungkan pembinaan intensif, pendampingan pelatih, fasilitas latihan, hingga kesempatan mengikuti kompetisi nasional sebagai bagian dari proses pengembangan atlet.

Diketahui bahwa, Keikutsertaan atlet muda PAC dalam berbagai kejuaraan sepanjang 2026 menjadi bagian dari strategi tersebut. Setelah mempertahankan gelar juara umum pada Kejuaraan Atletik Jatim Open 2026, para atlet kembali turun pada Jakarta Athletics League untuk menambah pengalaman bertanding sekaligus mengukur perkembangan kemampuan mereka di level nasional.

Mengitup dari Antara, Sekretaris Umum PB PASI, Jodi Mahardi, menilai kompetisi memiliki peran penting dalam proses pembinaan atlet usia muda.

“Mereka tidak hanya berlatih, tapi mereka juga meraih jam terbang yang memadai bagi memastikan regenerasi atletik kita benar-benar berkesinambungan,” ujarnya.

Jam terbang tersebut dinilai menjadi pelengkap dari latihan harian. Melalui kompetisi yang rutin, atlet memperoleh pengalaman menghadapi tekanan pertandingan, membangun kepercayaan diri, sekaligus mengevaluasi perkembangan teknik yang telah diasah selama masa pelatihan.

Sementara itu, Pendekatan pembinaan berbasis kompetisi juga mulai menghasilkan atlet-atlet baru yang mampu bersaing di nomor berbeda dalam waktu relatif singkat. Salah satunya ditunjukkan oleh Yusuf Manakopeyau yang meraih medali perak lompat jauh sekaligus menjalani debut di nomor tolak peluru U-18 dalam Jakarta Athletics League.

Direktur & Executive Vice President Sustainable Development PT Freeport Indonesia, Claus Wamafma, mengatakan perkembangan tersebut memperlihatkan pembinaan mulai memberikan dampak terhadap kemampuan atlet.




“Pencapaian atlet seperti Yusuf Manakopeyau yang mampu tampil kompetitif di nomor barunya menunjukkan hasil dari pembinaan yang berjalan baik di PAC,” ucap dia.

Menurut Claus, kompetisi yang berlangsung secara berkelanjutan juga membantu membentuk kesiapan mental atlet selain meningkatkan kemampuan teknik bertanding. PT Freeport Indonesia bersama PB PASI, kata dia, berkomitmen melanjutkan pembinaan agar talenta muda Papua memiliki kesempatan berkembang hingga level internasional.

Tak hanya itu, Perkembangan yang dicapai PAC turut mendapat perhatian dari PB PASI. Organisasi tersebut menilai munculnya atlet-atlet debutan yang langsung mampu menyumbang medali menunjukkan pembinaan yang dilakukan di Papua mulai melahirkan regenerasi baru.

Jodi Mahardi menyebut hasil tersebut memperlihatkan potensi atletik dari Indonesia Timur terus berkembang.

“Lahirnya juara dari atlet-atlet debutan menegaskan bahwa potensi atletik Timur Indonesia akan terus mekar melalui program pembinaan yang terstruktur,” imbuhnya.

Ia menambahkan sinergi pembinaan yang dijalankan di daerah menjadi bagian dari upaya memperluas basis atlet nasional sehingga regenerasi tidak hanya bertumpu pada pusat-pusat latihan di Pulau Jawa.

Perlu diketahui, Model pembinaan tersebut mengindikasikan bahwa pembangunan prestasi olahraga tidak semata ditentukan oleh bakat individu. Ketersediaan akses terhadap fasilitas, pelatih, lingkungan latihan, dan kesempatan bertanding menjadi faktor yang saling melengkapi dalam membentuk atlet berprestasi.

Salah satu wujud paling nyata Freeport dari komitmen tersebut adalah pembangunan Mimika Sport Complex (MSC) di Kabupaten Mimika, kompleks olahraga senilai sekitar US$33 juta atau setara Rp462 miliar yang rampung dibangun pada 2016 dan 2018.

Ketika akses tersebut dapat dijangkau sejak usia muda, peluang lahirnya atlet baru dari berbagai daerah pun semakin terbuka. Papua menjadi salah satu contoh bagaimana investasi pada pembinaan jangka panjang dapat memperluas kesempatan generasi muda untuk berkembang sekaligus memperkuat regenerasi olahraga nasional.

Baca Juga:

Leave a Comment