Penanganan Bencana Lambat, Anak Eks Presiden Jadi Sasaran Amuk Warga
Jakarta, CNBC Indonesia- Kemarahan publik di Venezuela terus memuncak setelah pemerintah dinilai lamban menangani dampak dua gempa bumi yang menewaskan sedikitnya ribuan orang.
Puncak kemarahan itu terlihat saat seorang ibu korban meluapkan emosinya kepada Nicolas Maduro Guerra, putra mantan Presiden Nicolas Maduro, ketika mengunjungi kawasan terdampak di Catia La Mar.
“Saya tidak kehilangan dapur! Saya kehilangan seorang putri!” teriak Damely Yaneth Díaz kepada Maduro Guerra, seperti dikutipThe Guardian, Rabu (15/7/2026).
Ia juga menuding pemerintah telah lalai. “Kalian semua harus ditangkap. Ini adalah tindakan ceroboh dan kalian harus membayar,” katanya. Video insiden tersebut viral di media sosial dan menjadi simbol kemarahan warga terhadap penanganan pemerintah pasca gempa.
Diketahui bahwa, Gempa yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni menghancurkan puluhan bangunan di negara bagian La Guaira dan menyebabkan kerusakan besar di Caracas. Hingga kini pemerintah mencatat 4.490 korban tewas, sementara proses pencarian masih berlangsung sehingga jumlah korban diperkirakan terus bertambah.
Banyak keluarga mengaku harus menggali reruntuhan serta tangan kosong sebab bantuan dinilai datang terlambat.
Presiden sementara Venezuela yang didukung Amerika Serikat (AS), Delcy Rodríguez, membantah tudingan bahwa pemerintah gagal menangani bencana. Ia menyebut kritik tersebut sebagai bagian dari propaganda dan menegaskan aparat pemerintah serta militer telah bekerja tanpa henti membantu para korban. Rodríguez juga beralasan lambatnya respons terjadi karena banyak pejabat senior di La Guaira turut menjadi korban jiwa.
Maduro Guerra mengaku memahami kemarahan keluarga korban. “Ya, saya mengerti dan saya mendukung dia. Saya tidak bisa membayangkan rasa sakit yang dia rasakan,” ujarnya kepada televisi NorwegiaTV2.
Sementara itu, Namun saat ditanya mengenai dugaan kualitas proyek perumahan pemerintah yang runtuh, ia menjawab, “Saya tidak tahu, saya bukan arsitek. Saya seorang ekonom.”
Di tengah duka, kemarahan warga juga dipicu pernyataan Rodríguez yang memperingatkan para pengkritik pemerintah dan militer akan “dikuburkan”. Ucapan tersebut menuai kecaman karena disampaikan saat banyak keluarga masih mencari jenazah kerabat mereka yang tertimbun reruntuhan.
Sejumlah pengamat menilai kemarahan publik berpotensi memicu gejolak sosial dan memperumit situasi politik Venezuela. Bencana ini juga memperbesar ketidakpuasan terhadap pemerintahan yang didukung AS setelah intervensi militer Washington pada Januari lalu yang berujung pada penangkapan Nicolás Maduro.
Kekecewaan itu dirangkum oleh Francisco González, seorang pekerja yang membantu evakuasi di kompleks perumahan OPPE 25. Ia membandingkan respons pemerintah saat ini dengan penanganan bencana pada era Hugo Chávez.
Tak hanya itu, “Orang pertama yang datang ke sini adalah Chávez. Dia punya kekurangan, tetapi dia mencintai rakyatnya. Tidak seperti para bajingan yang kita miliki sekarang. Saya pikir Tuhan sedang menghukum para politisi,” ujarnya.
Baca Juga:




