15 Juli 2026 Stories worth reading. Perspectives worth sharing.
BREAKING
Trump Makin Buntu, Iran Masih Pegang ‘Kartu As’ Hormuz
Finance & Uang

Trump Makin Buntu, Iran Masih Pegang ‘Kartu As’ Hormuz

admin Juli 15, 2026 3 min read

Jakarta, CNBC Indonesia- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menemui jalan buntu dalam upayanya membuka Selat Hormuz.

Kesepakatan awal perdamaian dengan Iran yang diteken bulan lalu mulai goyah, sementara serangan kembali terjadi di salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia itu.

MengutipThe Economist, Trump sebelumnya menyebut kesepakatan tersebut telah memenuhi seluruh tujuan AS. Perang di kawasan Teluk diharapkan berakhir dan Selat Hormuz bisa kembali dibuka untuk pelayaran.

Namun, belum sampai satu bulan, pertempuran kembali pecah. Salah satu pemicunya adalah perbedaan tafsir antara AS dan Iran terhadap isi memorandum of understanding atau nota kesepahaman yang sudah mereka buat. Lalu lintas kapal yang melewati Selat Hormuz pun turun tajam.

Diketahui bahwa, Pada malam 13 Juli 2026, rudal Iran menghantam dua kapal tanker berbendera Uni Emirat Arab yang sedang melintasi Selat Hormuz. Serangan tersebut menewaskan satu orang.

AS kemudian membalas dengan menyerang sejumlah sasaran militer di Iran. Teheran tidak tinggal diam dan meluncurkan rudal serta pesawat nirawak ke beberapa negara Arab.

Sejak 7 Juli 2026, serangan balasan antara kedua pihak sudah berlangsung selama lima malam. Konflik terbaru ini bermula ketika Iran menyerang tiga kapal di Selat Hormuz.

Meski ketegangan meningkat, AS dan Iran sejauh ini masih mencoba membatasi serangan. Washington lebih banyak menyasar wilayah selatan Iran, sedangkan Teheran belum menyerang infrastruktur sipil di kawasan Teluk.

Sementara itu, Kedua negara tampaknya belum ingin kembali terlibat dalam perang besar. Namun, sebagian besar isi kesepakatan yang sebelumnya dibuat kini sudah tidak berjalan.

AS sudah mencabut pengecualian sanksi yang sebelumnya membuat Iran masih bisa menjual minyak. Pada 13 Juli, Trump juga mengatakan akan kembali memblokade pengiriman kapal Iran.




Trump sempat punya ide lain. AS ingin menarik biaya dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai imbalan atas pengamanan yang diberikan. Namun, rencana itu kemudian dibatalkan pada 14 Juli.

Trump memang ingin Selat Hormuz kembali dibuka. Masalahnya, tidak ada pilihan yang benar-benar mudah untuk mewujudkannya.

Tak hanya itu, Perselisihan antara AS dan Iran berawal dari perbedaan membaca isi nota kesepahaman. Dalam paragraf kelima, Iran disebut akan menyiapkan pengaturan agar kapal-kapal komersial bisa melintas dengan aman.

Kalimat tersebut cukup umum sehingga bisa dimaknai berbeda oleh kedua pihak. AS menilai Iran harus membersihkan ranjau dan membuka kembali jalur pelayaran. Sementara itu, Iran menganggap kesepakatan tersebut juga memberinya hak untuk mengatur lalu lintas kapal.

Jalur utama di Selat Hormuz dikenal sebagai Traffic Separation Scheme. Jalur ini merupakan koridor selebar sekitar enam mil atau 9,7 kilometer yang berada di bagian terdalam selat.

Masalahnya, keberadaan ranjau membuat jalur tersebut berbahaya. Kapal-kapal akhirnya harus mencari rute lain, baik ke arah utara melalui perairan Iran maupun ke arah selatan melalui perairan Oman.

Perlu diketahui, Selama beberapa pekan terakhir, Angkatan Laut AS membantu mengawal kapal tanker yang melewati jalur selatan. Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mendorong perusahaan pelayaran demi memakai rute tersebut.

Iran tidak senang dengan langkah itu. Teheran menilai jalur Oman bisa mengurangi kendalinya atas Selat Hormuz. Iran kemudian menjelaskan rute tersebut ditutup, sedangkan AS tetap mengatakan jalur itu masih bisa digunakan.

Namun, keputusan akhirnya tetap berada di tangan pemilik kapal. Selama risiko serangan masih tinggi, banyak perusahaan pelayaran akan memilih tidak melintas dan menganggap Selat Hormuz belum benar-benar aman.

Menurut perusahaan pemantau kapal Kpler, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz sudah turun ke level terendah sejak 25 Mei 2026.

Baca Juga:

Leave a Comment