15 Juli 2026 Stories worth reading. Perspectives worth sharing.
BREAKING
BEI Rilis Daftar Saham HSC, Akhirnya Kabar Baik Datang dari AS dan …
Finance & Uang

BEI Rilis Daftar Saham HSC, Akhirnya Kabar Baik Datang dari AS dan …

admin Juli 14, 2026 3 min read

Jakarta, CNBC Indonesia -Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam. bursa saham dan rupiah menguat sementara harga Surat Berharga Negara (SBN) turun.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan kembali menghadapi tantangan pada hari didorong oleh masih banyak pengumuman penting pada hari ini yang patut diwaspadai dan sentimen perang yang kian memanas.

Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup nyaris tidak bergerak pada perdagangan kemarin, Selasa (14/7/2026).

Diketahui bahwa, IHSG masih bergerak dengan volatilitas tinggi kemarin. Setelah melonjak 1,92% pada akhir perdagangan kemarin, IHSG sempat mengawali perdagangan di zona merah.

Pada perdagangan intraday, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.95,02, tetapi tidak mampu bertahan sebelum akhirnya memangkas penguatan dan kembali nyaris ke level perdagangan sebelumnya.

Nilai dan volume transaksi hari melonjak cukup tinggi dibandingkan dengan rata-rata perdagangan hari-hari sebelumnya. Nilai transaksi mencapai Rp16,83 triliun, melibatkan 37,59 miliar saham dalam 2,81 juta kali transaksi.

Pada pekan lalu rata-rata nilai transaksi harian hanya Rp 10,27 triliun. Volume transaksi tercatat 20,49 miliar saham.

Sementara itu, Pasar juga tercatat menutup perdagangan masih dalam posisinet foreign outflowpada sesi perdagangan kemarin sebesar Rp 830,34 miliar mengindikasikannet foreign outflowsecara year to date sebesar Rp 77,42 triliun.

MengutipRefinitiv,pergerakan IHSG kemarin tertahan oleh koreksi emiten bank jumbo. Hal ini juga tercermin dari sektor finansial yang anjlok paling dalam, yakni 1,71%.




Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Mandiri (BMRI) kompak menjadi pemberat IHSG dengan bobot masing-masing -10,22 poin, -8,82 poin, dan -7,35 poin.

Sementara itu, emiten konglomerat, khususnya milik Bakrie dan Prajogo Pangestu mencoba mengatrol IHSG tetapi tidak kuat. Bumi Resources Mineral (BRMS) berkontribusi 6,7 poin, Barito Renewables Energy (BREN) 5,8 poin, dan Energi Mega Persada (ENRG) 5,23 poin.

Tak hanya itu, Sebagai informasi, pada perdagangan kemarin emiten bank jumbo mendorong IHSG melaju kencang pada akhir sesi. Hal itu seiring dengan pengumuman dari lembaga rating Standar & Poor’s (S&P) yang mempertahankan rating investment grade dan outlook stabil mereka. Keputusan ini menjadi kabar baik setelah sebelumnya lembaga rating tersebut dikabarkan akan menurunkan outlook Indonesia.

Nilai tukar rupiah berakhir menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Penguatan terjadi pasca lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia serta outlook-nya.

Merujuk dataRefinitiv,mata uang Garuda berakhir di zona hijau dengan penguatan 0,11% ke level Rp18.080/US$. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak cukup dinamis. Mata uang Garuda mengawali perdagangan secara stagnan di level psikologis Rp18.100/US$, lalu berbalik bergerak positif hingga penutupan perdagangan.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau melemah tipis 0,04% ke level 101,197.

Perlu diketahui, Penguatan rupiah pada perdagangan kemarin masih dipengaruhi kabar baik dari lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB bersama outlook stabil.

Keputusan tersebut menegaskan posisi Indonesia tetap berada dalam kategori layak investasi atau investment grade di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.

Dalam laporan yang dirilis pada Senin (13/7/2026), S&P menilai pelemahan sejumlah indikator fiskal dan eksternal Indonesia saat ini bersifat sementara. Kondisi tersebut berpotensi membaik seiring stabilnya arah kebijakan pemerintah serta implementasi kebijakan yang lebih efektif.

Dalam laporannya, S&P Global Ratings juga memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp17.700/US$ pada 2026.

Baca Juga:

Leave a Comment