Tren Baru Orang Kaya Ramai-Ramai Pindahkan Sekolah Anak ke Sini
Jakarta, CNBC Indonesia -Makin banyak keluarga berpenghasilan tinggi di Amerika Serikat (AS) memindahkan anak mereka dari sekolah konvensional ke sekolah berbasis kecerdasan buatan (AI).
Mereka mulai melirik model pendidikan alternatif yang menggabungkan AI, pembelajaran berbasis proyek, serta pelatihan keterampilan hidup seperti negosiasi, berbicara di depan umum, hingga membangun bisnis.
Salah satu orang tua yang mengambil langkah tersebut adalah Ankur Jain, presiden hedge fund di New Jersey.
Meski anaknya yang berusia 11 tahun berprestasi dan merasa nyaman di sekolah negeri, Jain tetap memutuskan memindahkannya ke Forge Prep, sekolah baru yang melatih siswa memecahkan masalah nyata, merancang produk, hingga membangun perusahaan sejak usia dini.
Diketahui bahwa, Menurut Jain, kemampuan seperti negosiasi, penjualan, dan public speaking justru menjadi bekal penting yang baru ia kuasai saat berusia 20-an tahun.
“Masa depan sedang berubah. Kalau kita masih mengajar anak-anak dengan cara yang sama seperti 60, 70, atau 80 tahun lalu, bagaimana kita mempersiapkan mereka?” ujar Jain, dikutip dari The Wall Street Journal, Rabu (15/7/2026).
Fenomena ini makin berkembang di kalangan orang tua kaya yang menilai perkembangan AI rencananya mengubah pasar tenaga kerja secara drastis. Mereka mulai mempertanyakan apakah sistem pendidikan tradisional masih relevan untuk mempersiapkan anak menghadapi masa depan.
Sekolah-sekolah alternatif tersebut umumnya lebih menekankan keterampilan praktis dibanding hafalan akademik. Guru juga tidak lagi disebut sebagai “teacher”, melainkan “guide” atau “coach”. Beberapa sekolah bahkan menggunakan tutor berbasis AI yang dapat menyesuaikan materi belajar berdasarkan kemampuan, minat, hingga tingkat perhatian masing-masing siswa.
Sementara itu, Salah satu sekolah yang paling banyak mendapat perhatian adalah Alpha School, yang didirikan di Austin, Texas, sekitar 12 tahun lalu. Sekolah ini menggabungkan dua jam pembelajaran menggunakan AI setiap hari dengan lokakarya berbasis proyek secara langsung.
Biaya sekolahnya pun tidak murah. Di San Francisco, uang sekolah mencapai US$75.000 per tahun, atau sekitar Rp1,3 miliar.
Seorang investor modal ventura asal San Francisco, Shaun Johnson, memilih menyekolahkan anaknya di Alpha setelah tidak puas dengan sekolah negeri yang diperoleh melalui sistem undian. Menurutnya, pendidikan saat ini perlu dirombak karena dunia kerja akan berubah akibat AI.
“Kami menyadari sistem pendidikan kemungkinan memang sudah rusak dan rencananya ada para entrepreneur yang mencoba memperbaikinya,” kata Johnson.
Tak hanya itu, Ia menilai AI bukan digunakan sekadar mengikuti tren, melainkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang benar-benar personal. Platform AI di Alpha School mencatat interaksi setiap siswa, termasuk tingkat fokus saat belajar, kemudian menyesuaikan kurikulum untuk hari-hari berikutnya.
“Ini bukan AI demi AI. Ini soal personalisasi,” ujarnya.
Alpha School juga pernah mendapat sorotan karena didukung sejumlah tokoh ternama, termasuk miliarder Bill Ackman. Meski demikian, model pendidikan seperti ini juga menuai kritik.
Profesor pendidikan dari Stanford University, Caroline Hoxby mengatakan, pembelajaran berbasis proyek sebenarnya bukan konsep baru. Yang berbeda saat ini adalah integrasi AI ke dalam proses belajar.
Perlu diketahui, Namun, ia mengingatkan efektivitas model itu masih belum memiliki bukti ilmiah yang kuat.
“Saya bukan pendukung model pendidikan apa pun yang belum memiliki bukti empiris ilmiah yang memadai,” kata ia.
Senada, profesor pendidikan dari Stanford, Victor Lee menilai, penggunaan istilah “guide” sebagai pengganti guru berpotensi mengurangi penghargaan terhadap profesi pendidik.
“Hal itu bisa berdampak negatif terhadap pengakuan atas keahlian dan profesionalisme yang dimiliki para guru,” ujarnya.
Baca Juga:




