Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Rp18.055
Jakarta, CNBC Indonesia- Nilai tukar rupiah dibuka di zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Penguatan terjadi di tengah aksi jual dolar oleh pelaku pasar global.
Merujuk dataRefinitiv, mata uang Garuda berhasil mengawali perdagangan pagi ini dengan terapresiasi tipis 0,03% atau menguat ke level Rp18.055/US$.
Kondisi ini sekaligus melanjutkan tren penguatan rupiah. Pada perdagangan sebelumnya, Rabu (15/7/2026), rupiah ditutup menguat 0,11% ke level Rp18.060/US$.
Sementara itu, dinamika pergerakan indeks dolar AS (DXY) masih cukup menarik. DXY pada pukul 09.00 WIB terpantau bergerak stabil di level 100,505. Namun pada perdagangan sebelumnya, indeks dolar AS turun tajam 0,43%.
Diketahui bahwa, Dengan melihat tren pelemahan indeks dolar AS, pasar tampak tengah melakukan aksi jual pada aset berdenominasi dolar AS. Kondisi ini pada akhirnya dapat membuka ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia setelah data harga produsen Amerika Serikat (AS) dirilis lebih rendah dari perkiraan. Data tersebut memperkuat tanda-tanda meredanya tekanan inflasi di AS.
Producer Price Index (PPI) untuk permintaan akhir turun 0,3% pada Juni 2026. Angka ini berbalik dari Mei 2026 yang sebelumnya direvisi menjadi naik 0,6%.
Realisasi tersebut lebih rendah dari perkiraan pasar yang sebelumnya memperkirakan PPI tidak berubah. Data harga produsen yang lebih lunak memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) masih dapat bersabar dalam menentukan arah suku bunga.
Sementara itu, Meski begitu, pasar tetap mencermati eskalasi terbaru antara AS dan Iran. Ketegangan yang kembali meningkat membuat harga minyak masih bertahan di dekat level tertinggi dalam satu bulan terakhir, sehingga risiko terhadap prospek inflasi belum sepenuhnya mereda.
Adapun, Bank Indonesia (BI) juga terus berupaya melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa BI telah masuk ke pasar Non-Deliverable Forward (NDF) di luar negeri atauoffshoresejak April 2026.
Hal dimaksud disampaikan Destry dalam Investment Forum 2026 yang digelar CNBC Indonesia di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (15/7/2026).
“Sejak April, terobosan BI masuk di pasar NDF 24 jam 6 hari. Kami menggunakan kanwil di luar untuk masuk monitor NDF,” kata Destry.
Tak hanya itu, Menurut Destry, BI masuk ke pasar NDF dengan bantuan kantor perwakilan di luar negeri, termasuk Singapura, Hong Kong, dan New York.
Selain itu, BI juga memberi pengecualian atas larangan transaksi NDF jual valas terhadap rupiah di pasar luar negeri bagi dealer utama Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA) tertentu yang memenuhi syarat. Kebijakan ini ditempuh untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah serta pendalaman pasar keuangan domestik.
“Dalam rangka stabilisasi moneter bisa jual NDF, tidak boleh beli. Cover di DNDF itu sifatnya voluntary. Kenapa primary dealers, karena ada hubungan ke BI dan banyak juga terkait LCT dan sebagainya,” papar Destry.
Selain pelonggaran NDFoffshorebagi dealer PUVA, BI juga memperluas instrumen operasi moneter valas dengan instrumen spot dan swap dalam valutaOffshore Chinese Renminbi(CNH) terhadap rupiah.
Baca Juga:




