Amran Cerita Pernah Ketemu Bill Clinton: yang Dibahas Kopi Gayo
Aceh, CNBC Indonesia- Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengaku memiliki pengalaman yang tak terlupakan saat bertemu mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton. Dalam pertemuan tersebut, Amran mengaku terharu karena Clinton justru membahas kopi Gayo asal Aceh yang telah dikenal hingga ke mancanegara.
Cerita itu disampaikan Amran saat meninjau pembibitan kopi di Rimba Raya KM 60, Bener Meriah, Aceh, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, pengakuan dari tokoh dunia dimaksud menjadi bukti bahwa kopi Gayo memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar global.
“Kabupaten Gayo Lues, kemudian Aceh Tengah, Bener Meriah, kita support terutama kopi. Ketemu Bill Clinton, yang dibahas adalah kopi Gayo. Waktu kami kunjungan ke Meksiko dan Argentina. Kopi yang kita cicipi hari ini mendunia. Dan ada pengalaman saya. Di situ saya terharu,” ujar Amran.
Diketahui bahwa, Melihat besarnya potensi tersebut, Kementerian Pertanian berkomitmen memperkuat pengembangan kopi nasional, mulai dari penyediaan bibit hingga dukungan anggaran bagi petani kopi di berbagai daerah, termasuk Aceh.
“Insya Allah pembibitan, penganggaran dan seterusnya, kami akan bantu petani kopi se-Indonesia, termasuk Aceh,” katanya.
Amran mengatakan, dukungan itu bakal dianggarkan secara bertahap dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Harapannya, produktivitas kebun kopi meningkat alhasil mampu mendongkrak kesejahteraan petani.
“Insya Allah bisa, jadi kami mesti anggarkan 2-3 tahun ke depan. Kenapa? Kalau ada 2 hektar saja satu keluarga. 2 hektar saja. Kita hitung tadi itu Rp30 juta per bulan,” tutur dia.
Sementara itu, Menurut Amran, serta kepemilikan lahan sekitar dua hektare, petani kopi berpeluang memperoleh pendapatan puluhan juta rupiah setiap bulan.
“Jadi, Rp360 juta dibagi 12 (bulan). Itu Rp20 juta lebih sampai Rp30 juta per bulan. Itu di atas gaji Menteri. Itu mimpi kami. Saudara kita di Papua kemarin juga dapat Rp20 juta per bulan,” kata Amran.
Lebih lanjut, Amran menegaskan pemerintah juga ingin memperkuat jalur ekspor kopi Indonesia agar dapat langsung masuk ke negara tujuan tanpa melalui negara lain sebagai hub. Langkah ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah yang lebih signifikan bagi petani.
“Karena kopi ini sudah mendunia. Bayangkan dunia kita getarkan lewat kopi Gayo, dari Indonesia. Harganya mahal. Nanti kita ekspor direct, nggak usah transit, jadikan negara lain hub, kita langsung,” pungkasnya.
Baca Juga:




